Pengikut

Selasa, 07 Maret 2023

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

 



JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA


Oleh : I Made Yasa, S.Pd.SD

Dari SDN 2 Pelangan Kec. Sekotong

CGP Angkatan 6 Kabupaten Lombok Barat

 

 


Kali ini saya akan merefleksikan menggunakan MODEL 4C Conecction, Challenge, Concept, Change (4C) Model ini dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morisson ( 2011). Model ini cocok untuk digunakan dalam merefleksikan materi pembelajaran. Ada beberapa pertanyaan kunci yang menjadi panduan dalam membuat refleksi model ini



MODEL 4C Conecction, Challenge, Concept, Change (4C) 1 Conecction : Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran anda sebagai calon Guru Penggerak ? 2. Challenge : Adakah ide, materi atau pendapat dari nara sumber yang berbeda dari praktik yang anda jalankan selama ini ? 3. Concept : Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak? 4. Change : Apa perubahan dalam diri anda yang ingin anda lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini ?



Sekolah sebagai sebuah ekosistem adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik dan abiotik. Kedua unsur ini saling berkaitan sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Faktor Biotik : Faktor Abiotik : Murid, Kepala sekolah, Guru, Keuangan Staf/ Tenaga Kependidikan, Sarana dan Prasarana Pengawas Sekolah, Orang Tua, Lingkungan Alam Masyarakat sekitar sekolah, Dinas Terkait, Pemerintah Daerah MATERI YANG DIDAPAT.



PENDEKATAN BERBASIS KEKURANGAN/MASALAH (DEFICIT-BASED APPROACH) Fokus Pada Masalah Berkutat pada masalah utama Mengidentifikasi kebutuhan dan kekurangan-selalu bertanya apa yang kurang? Fokus mencari bantuan dari sponsor atau institusi lain Merancang program atau proyek untuk menyelesaikan masalah Mengatur kelompok yang dapat melaksanakan proyek MATERI YANG DI DAPAT



PENDEKATAN BERBASIS ASET (ASET-BASED APPROACH) Fokus pada aset kekuatan Membayangkan masa depan Berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan ) Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan Melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan MATERI YANG DI DAPAT



ASET-ASET DALAM SEBUAH KOMUNITAS MODAL MANUSIA MODAL SOSIAL MODAL POLITIK MODAL AGAMA DAN BUDAYA MODAL FISIK MODAL LINGKUNGAN / ALAM MODAL FINANSIAL MATERI YANG DI DAPAT



Peran Guru Penggerak diantaranya : 1. Menjadi pemimpin pembelajaran 2. Mengerakkan komunitas praktisi 3. Mendorong kolaborasi antar guru 4. Menjadi coach bagi guru lain 5. Mewujudkan kepemimpinan murid PERAN SEBAGAI CALON GURU PENGGERAK



01 Conecction : Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran anda sebagai calon Guru Penggerak ?

Ø Sebagai seorang pemimpin pembelajaran sekaligus pemimpin ekosistem sekolah memiliki peran dan harus mempunyai kemampuan dalam mengelola ekositem sekolahnya, yang mana di dalam ekosistem sekolah terdapat unsur biotik dan abiotik dan di dalamnya saling berkaitan. Untuk mengelola sumber daya atau aset utama dilakukan dengan pendekatan berbasis aset, agar muncul kekuatan atau potensi yang dimiliki sekolah.

Ø Sekolah disebut sebuah komunitas yang didalamnya terjadi proses pembelajaran. Sebagai Calon Guru penggerak mempunyai peran menggerakkan komunitas praktisi agar karakter komunitas menjadi sehat dan resilien dengan mempraktikkan dialog yang berkelanjutan, menumbuhkan komitmen warga sekolah untuk saling bergotong royong demi kemajuan muridmurid, membangun koneksi dan kolaborasi untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset sebagai modal utama, mampu mengidentifikasi modal utama dan pemanfaatannya, Membuat prakarsa perubahan positif dengan mewujudkan visi berbasis aset, bertanya apa yang sudah berhasil dilakukan/ bagaimana mengupayakan sehingga lebih baik lagi ? Merangkul perubahan dan bertanggung jawab terhadap komunitas, secara terus menerus memperluas dan memperbaharui kapasitas kepeimpinan.

Ø Mendorong kolaborasi antara guru dalam pengelolaan sumber daya, mendorong perencanaan dan tindakan kolaboratif, jaringan dan hubungan yang kuat antara penduduk, organi dan membina hubungan antarsasi, bisnis dan komunitas. Kolaborasi yang dimaksud adalah membentuk hubungan dan jejaring antara warga sekolah, masyarakat sekitar, organisasi yang ada, dan aset lainnya juga harus terjalin. Membangun dan membina hubungan antara warga sekolah, seperti hubungan guru-guru, guru-kepala sekolah, guru-murid, guru-staf sekolah, guru-staf sekolah-murid ataupun kepala sekolah-murid menjadi sangat penting untuk membangun sekolah yang sehat.

Ø Menjadi coach bagi guru lain dalam pendekatan berbasis aset/kekuatan untuk menemukenali hal-hal positif dalam ekosistem sekolah guna mengelola 7 sumber daya utama dan mengoptimalkan pemanfaatannya.

Ø Untuk mengelola sumber daya yang dimiliki sekolah, seorang calon guru penggerak harus mampu mengoptimalkan modal manusia salah satunya murid, dengan cara melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid, memberikan kesempatan murid untuk mengembangkan bakatnya. Hal ini sejalan dengan peran guru penggerak yaitu mewujudkan kepemimpinan pada murid.



02 Challenge : Adakah ide, materi atau pendapat dari nara sumber yang berbeda dari praktik yang anda jalankan selama ini ?

Ada,selama ini yang saya lakukan sebelum mempelajari materi modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya Dalam kegiatan rapat atau diskusi guru selalu membicarakan kekurangan/ masalah murid, fokus pada masalah yang ada. Jika ingin mengadakan sutau kegiatan selalu berkutat pada masalah kegiatan sebelumnya.Alhasil kegiatan yang akan dilakukan hanya untuk menyelesaikan masalah pada kegiatan sebelumnya dengan mencari bantuan kepada pihak luar ataupun hasilnya kurang optimal. Challenge : Adakah ide, materi atau pendapat dari nara sumber yang berbeda dari praktik yang anda jalankan selama ini ?



03 Concept : Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?

Ø Konsep utama yang saya pelajari dan menurut saya penting yaitu : Pendekatan Berbasis aset (Asset-Based Approach) 1.Fokus pada aset dan kekuatan 2. Membayangkan masa depan 3. Berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut 4. Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan) 5. Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan 6. Melaksanakan rencana aksi yang sudah dipergunakan Concept : Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?

Ø Mengidentifikasi 7 modal sebagai aset utama dan mengelola pemanfaatannya dengan optimal : Pendekatan Berbasis aset (Asset-Based Approach) 1. Modal manusia 2. Modal social 3. Modal Politik 4. Modal Agama dan budaya 5. Modal fisik 6. Modal lingkungan / alam 7. Modal Finansial Concept : Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?



04 Change : Apa perubahan dalam diri anda yang ingin anda lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini ?


Setelah mempelajari modul 2.3 ini saya merubah mindset bahwa segala sesuatu harus fokus pada aset dan kekuatan, membayangkan masa depan yang ingin diraih, berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan hal apa saja yang sudah dilakukan untuk mencapai kesuksesan tersebut, mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya, merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan, melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan. Change : Apa perubahan dalam diri anda yang ingin anda lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini ?



TERIMA KASIH SALAM GURU PENGGERAK TERGERAK-BERGERAK- MENGGERAKKAN



=========== Semoga bermanfaat Terimakasih ==============

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN

 



JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN (Modul 3.1. ) PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN


Oleh: I Made Yasa, S.Pd.SD

Dari SD Negeri 2 Pelangan Kec. Sekotong

CGP A-6 Kabupaten Lombok Barat


Pada modul 3.1. ini, saya merefleksi hasil kegiatan yang saya ikuti di LMS ini dalam bentuk jurnal refleksi. Jurnal Refleksi Dwi Mingguan ini membahas materi Modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan berbasis Nilai-nilai Kebajika sebagai pemimpin pembelajaran. Jurnal refleksi ini saya tulis sebagai media untuk mendokumentasikan perasaan, ide dan pengalaman saya serta praktik baik yang telah saya lakukan. Model refleksi yang saya gunakan adalah Model 1: 4F (Fakta, Perasaan, Temuan, Masa Depan).

Pada Refleksi Dwi Mingguan ini saya akan mencoba merefleksi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Pada minggu ini terdapat beberapa kegiatan pembelajaran, dimulai dari diri, eksplorasi konsep, forum diskusi eksplorasi konsep, ruang kolaaorasi kelompok, ruang kolaborasi presentasi kelompok, unggah tugas ruang kolaborasi, demonstrasi kontekstual modul 3.1, elaborasi pemahaman, Keterkaitan antar materi dan rencana tindakan nyata 3.1.

1. Fakta (Peristiwa)

Kegiatan pertama adalah membuat demonstrasi kontekstual dari modul 3.1. Dalam demonstrasi kontekstual saya, jurnal monolog terkait dengan materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Tugas ini membahas perbedaan persuasi moral dan dilema etika, 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan.

Minggu ini saya juga mengikuti kegiatan pembelajaran pada modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran memasuki tahap akhir. Saya mengikuti kegiatan Elaborasi Pemahaman bersama instruktur (Ibu. Luh Gede Maya Wiriastuti Dewi), narasumber, dan teman-teman CGP se Kabupaten Lombok Barat dengan total peserta ±62 orang . Sebelum masuk ruangan, saya mengerjakan tugas di modul 3.1 bagian 3.1.a.8. Elaborasi Pemahaman - Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran (Pertanyaan) Saya mempresentasikan Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran kepada instruktur saya melalui kuesioner.

2. Perasaan

Saya antusias dan bersemangat mengikuti kegiatan pembelajaran di minggu ke-18 ini. Pada modul 3.1. Sesi Elaborasi Pemahaman ini membahas contoh kasus yang berkaitan dengan persuasi moral dan dilema etika. Pengambilan keputusan harus memperhatikan 4 paradigma dilema etika dan 3 prinsip pengambilan keputusan yang baik serta dengan memperhatikan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang terdiri dari: (1) Menyadari adanya nilai-nilai yang bertentangan ​​dalam situasi ini (2) Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini (3) Mengumpulkan fakta yang relevan dengan situasi ini (4) Pengujian benar atau salah, meliputi: a. Ujian Hukum, b. Peraturan Tes/Standar Profesi, c. Uji Intuisi, d. Menguji Halaman Depan Koran e. Ujian Role Model/Idola f. Menguji halaman depan surat kabar, g.rangkuman proses perjalanan belajar saya sampai sekarang pada program guru mengemudi ini dengan menggunakan 10 soal driver yang tersedia di LMS di berbagai media Dalam rencana tindakan nyata saya membuat rencana tindakan tindakan nyata untuk berlatih Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran di sekolahku.

3. Temuan (Pembelajaran)

Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru saya dapatkan di modul 3.1. ini Pada bagian keterkaitan materi, disini saya menyimpulkan dan menjelaskan keterkaitan materi yang telah saya peroleh dan melakukan refleksi berdasarkan pemahaman yang telah berkembang dari dulu hingga sekarang di berbagai media. Pada fase ini saya diajak untuk mereview seluruh materi pembelajaran dan menghubungkan antara materi pembelajaran yang sudah saya lakukan, Sedangkan pada rencana tindakan nyata saya membuat rencana tindakan tindakan nyata untuk praktik Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah saya yang didasarkan pada nilai-nilai kesejahteraan universal yang disepakati, menghubungkan nilai-nilai kesejahteraan yang disepakati dan dipercaya dalam pengambilan keputusan proses dilema etis, bersifat reflektif, kritis, dan terbuka dalam menganalisis nilai-nilai kesejahteraan yang terkandung dalam pengambilan keputusan dilema etis.



4. Masa Depan (Implementasi)

Sekolah merupakan 'lembaga moral' dimana karakter seluruh warga sekolah dibentuk dan dibentuk. Guru sebagai pemimpin pembelajaran dan kepala sekolah seringkali dihadapkan pada berbagai situasi dimana suatu keputusan harus diambil. Di sini, sebagai seorang guru, saya sering menemui banyak kasus atau tantangan terkait persuasi moral dan dilema etika. Oleh karena itu pengambilan keputusan yang tepat dari saya sebagai seorang pendidik sangat diperlukan. Dengan adanya materi Pengambilan Keputusan Sebagai pemimpin pembelajaran pada modul ini, saya berharap dapat menyerap ilmu dan menerapkan pengambilan keputusan dengan memperhatikan 4 paradigma dilema etika dan 3 prinsip pengambilan keputusan yang baik serta memperhatikan 9 keputusan -membuat dan menguji langkah-langkah untuk membantu mengatasi kasus atau tantangan. Selain itu, saya mencoba untuk membagikan materi ini kepada rekan-rekan saya dengan harapan agar kita semua menjadi lebih siap dan siap untuk mengatasi kasus dan tantangan tersebut.


Salam Merdeka Belajar!


JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

 


JURNAL REFLEKSI DUA MINGGUAN (Modul 2.3) COACHING untuk supervisi akademik


Pada modul 2.3 ini, saya merefleksi hasil kegiatan yang saya ikuti di LMS ini dalam bentuk jurnal refleksi. Jurnal Refleksi minggu ini membahas materi Modul 2.3 tentang Coaching. Jurnal refleksi ini saya tulis sebagai media yang mendokumentasikan perasaan, ide dan pengalaman saya serta praktik baik yang telah saya lakukan. Model refleksi yang saya gunakan adalah Model 1: 4F (Fakta, Perasaan, Temuan, Masa Depan)

Kali ini saya akan mencoba merefleksi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dalam Learning Management System (LMS). Kegiatan dimulai dari modul 2.3.a.3 sampai modul post test 2

1. Fakta (Peristiwa)

juga keterkaitan antara paradigma berpikir dan prinsip pembinaan dengan supervisi akademik, selain itu juga menjelaskan perbedaan antara pembinaan, kerjasama, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka pemberdayaan teman sebaya, dibantu dengan video percakapan pembinaan yang membantu saya memahami caranya menjadi pelatih yang baik. Selanjutnya pada modul 2.3.a.4.3 kita membahas tentang Kompetensi Inti Pembinaan dan TIRTA sebagai alur percakapan Pembinaan, disini kita pelajari alur Pembinaan mulai dari Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, dan Tanggung Jawab yang disingkat TIRTA ini diharapkan seperti air dimana komunikasi dapat mengalir, disini juga dibahas tentang esensi dari coaching yaitu kehadiran sepenuhnya dari coach, dengan memperhatikan secara penuh apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi pendengar yang aktif dengan sesekali memberikan umpan balik tentang apa yang dibicarakan oleh coachee, dan mendiskusikan keterampilan membuat pertanyaan yang berbobot dalam percakapan coaching, selain itu, modul ini juga membahas proses percakapan coaching untuk membuat rencana aksi, coaching untuk refleksi, coaching untuk pemecahan masalah dan pembinaan untuk melakukan kalibrasi, kemudian dalam forum diskusi eksplorasi kita saling memperkuat pemahaman dengan berdiskusi antar CGP. Pada modul 2.3.a.5 yaitu ruang kolaborasi, saya berpasangan dengan Ibu Nur Ahillah dan Bapak Indra Kristianto Wahyu Hidayat untuk melakukan coaching conversation agar benar-benar memberikan pengalaman coaching yang nyata dengan rekan-rekan CGP, dan hasil percakapan tersebut divideokan dan diupload sebagai salah satu tagihan dari LMS, kemudian pada modul 2.3 .a.6 demonstrasi kontekstual,

2. Perasaan

Saya antusias dan sangat bersemangat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran tentang coaching ini. Pada modul 2.3. ini, awalnya saya jadi penasaran bagaimana caranya menjadi coach yang baik, kemudian saya merasa sangat senang karena semuanya terjawab di modul ini ditambah beberapa latihan langsung dengan CGP agar pemahaman modul 2 menjadi baik. praktek Saya merasa masih banyak kekurangan sehingga saya merasa ingin belajar lebih banyak lagi dan mencoba memahami tentang coaching, bagaimana cara mengajukan pertanyaan yang berbobot, dan bagaimana bersikap sebagai seorang coach yang baik.

3. Temuan (Pembelajaran)

Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru pada modul 2.3. memberikan saya banyak ilmu dan banyak pembelajaran tentang bagaimana menjadi coach yang baik dan bagaimana melakukan supervisi akademik yang baik yang dapat membantu perkembangan diri teman-teman sebaya, ada fase dimana saya diajak untuk mereview keseluruhan pembelajaran materi di Modul 2 : yang saya temukan mulai dari konsep Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pembelajaran, tentang peran dan nilai guru penggerak, tentang pembelajaran berdiferensiasi yang juga terkait dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional yang semuanya terkait dengan pembinaan dan supervisi akademik, dalam modul ini saya juga mencoba merencanakan tindakan nyata supervisi akademik teman sebaya, untuk membantunya mengembangkan efikasi diri teman sebayanya.

4. Masa Depan (Implementasi)

Sebagai seorang guru tentunya sering menemui banyak permasalahan di lapangan yang berkaitan dengan potensi siswa dan mungkin rekan kerja. masalah seringkali menjadi salah satu penghambat kemajuan seseorang dalam mencapai tujuannya, bahkan mungkin mereka tidak menyadari kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki untuk menyelesaikan masalah tersebut. Oleh karena itu, pembinaan sangat diperlukan untuk dapat membantu mengatasi permasalahan tersebut. Selanjutnya saya berharap semoga amal baik ini juga dapat dilakukan oleh rekan-rekan lainnya. Sehingga setiap orang bisa menjadi pelatih yang baik bagi siswanya dan orang lain.


============== Semoga Bermanfaat untuk semua =================


JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.2 PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

 


Jurnal Refleksi model 4F modul 2.2 (Pembelajaran Sosial dan Emosional)



Salam guru penggerak!

Tergerak,

Bergerak,

Menggerakkan.

Saya I Made Yasa,, S.Pd.SD. CGP Angkatan 6 dari SDN 2 Pelangan, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kali ini saya akan membuat jurnal refleksi dwi mingguan modul 2.2 tentang Kompetensi Sosial Emosional dengan model refleksi 4F (Fact, Feeling, Finding, Future) oleh Robert Greenaway

 

1. Peristiwa (Facts): peristiwa apa saja yang terjadi?

Pada pembelajaran modul 2.2 (pembelajaran sosial dan emosional) sama dengan modul-modul sebelumnya yaitu dengan alur MERDEKA yang dimulai dari mulai dari diri. Mulai dari alur pertama alur mulai dari diri menjawab beberapa pertanyaan di LMS sebagai refleksi individu selama menjadi seorang pendidik tentunya telah mdnapatkan banyak pengalaman yang mengarah pada pembelajaran sosial dan emosional. Selama menjadi pendidik, saya tentu pernah mengalami sebuah peristiwa yang dirasakan sebagai sebuah kesulitan, kekecewaaan, kemunduran, atau kemalangan, yang akhirnya membantu saya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Setelah itu memasuki alur kedua yaitu eksplorasi konsep, pada alur eksplorasi konsep calon guru penggerak belajar secara mandiri melalui materi-materi yang disajikan dalam forum LMS, calon guru penggerak juga diminta untuk menganalisis lima kasus yang disediakan dan saling menuliskan komentar pada forum diskusi daring. Memasuki alur ketiga yaitu ruang kolaborasi yang dibagi menjadi dua sesi, ruang kolaborasi ini dipandu oleh fasilitator Bapak H. Ratno, S.Pd.,M.Pd Ruang kolaborasi sesi pertama dimulai dengan refleksi materi pada eksplorasi konsep sejauh mana pemahaman calon guru penggrak pada materi tentang pembelajaran sosial dan emosional. Kemudian kesepakatan kelas dalam pembelajaran dan diskusi kelompok berdasarkan kelompok yang telah dibagi yaitu mendiskusikan bagaimana pengimplementasian pembelajaran sosial dan emosional di sekolah. Dilanjutkan dengan ruang kolaborasi sesi kedua yaitu kami calon guru penggerak melakukan presentasi hasil diskusi kelompok.

Alur yang keempat yaitu demontrasi kontekstual yaitu calon guru penggerak diminta untuk membuat rencana pelaksanaan pembelajaran sosial dan emosional, saya membuat RPP pembelajaran sosial dan emosional yang terintegrasi dalam kurikulum akademik hal ini karena tanpa disadari sebetulnya sebagai pendidik sudah menerapkan pembelajaran sosial dan emosional dalam pembelajaran hanya belum terarah dengan pembelajaran sosial dan emosional yang didapatkan dalam pendidikan guru penggerak ini diharapkan penerapan pembelajaran sosial dan emosional yang diberikan kepada murid lebih terarah lagi dan tepat sasaran agar keterampilan kompetensi sosial dan emosional murid dapat meningkat. Selanjutnya alur yang kelima adalah eloborasi pemahaman bersama instruktur yaitu Bapak Agus Sampurno, pada alur ini calon guru penggerak mendapat penguatan tentang materi pembelajaran sosial dan emosional. Selanjutnya alur yang keenam adalah koneksi antar materi mengaitkan materi pembelajaran sosial dan emosional dengan materi yang telah didapatkan pada modul sebelumnya. Alur terakhir dari alur merdeka adalah aksi nyata. Pada aksi nyata ini calon guru penggerak tidak diminta mengunggah tugas pada LMS akan tetapi menampilkannya kepada pengajar praktik pada pendampingan individu keempat.

2. Perasaan (Feelings): apa yang muncul saat proses pembelajaran

Bagi saya mengikuti pendidikan guru penggerak ini sangat beruntung dan bersyukur karena ilmu-ilmu baru yang saya dapatkan. Seperti pada modul 2.2 ini pembelajaran sosial dan emosional awalnya sebelum mempelajari modul ini saya berpikir bahwa pembelajaran sosial dan emosional ini akan tumbuh pada murid seiring dengan tingkat kedewasaan pada dirinya. Saya menerapkan pembelajaran sosial dan emosional ini sebelum mempelajari modul ini dengan memberikan motivasi kepada murid, mendengarkan dan memberikan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi, dan berempati kepada murid-murid saya. Ternyata hal-hal yang saya terapkan belum sepenuhnya tepat. Saya merasa masih banyak kekurangan pada diri saya dalam menerapkan pembelajaran sosial dan emosional ini. Untuk itu saya berharap saya dapat menerapkan pembelajaran sosial emosional ini baik secara eksplisit maupun secara terintegrasi dalam kurikulum sekolah. Hal yang saya tidak sadari juga sebetulnya ada juga yang sudah diterapkan dalam pembelajaran yang terintegrasi dalam kurikulum pembelajaran yaitu seperti keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dalam pembelajaran secara berkelompok.

Dengan mempelajari modul 2.2 ini pembelajaran sosial dan emosional saya semakin memahami bahwa keterampilan sosial dan emosional muridpun perlu dilatih agar mereka siap dalam kehidupan  ke depannya. Baik itu dalam kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran sosial dan emosional ini adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan murid, pendidik, dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosionalnya agar dapat memahami, menghayati, dan mengelola emosi (kesadaran diri), menetapkan dan mencapai tujuan positif  (pengelolaan diri), merasakan dan menunjukan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi), dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.

3. Pembelajaran (Findings): apa saja yang didapatkan

Pembelajaran yang didapatkan dalam modul ini banyak sekali diantaranya

  1. Pemahaman tentang pembelajaran sosial dan emosional yang penting untuk diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. Pembelajaran sosial dan emosional ini adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan murid, pendidik, dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosionalnya agar dapat memahami, menghayati, dan mengelola emosi (kesadaran diri), menetapkan dan mencapai tujuan positif  (pengelolaan diri), merasakan dan menunjukan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi), dan membuat keputusan yang bertanggung jawab hal ini berkaitan dengan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
  2. Lima kompetensi dalam pemebalajaran sosial dan emosional diantaranya kesadaran sosial yaitu kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri sendiri dalam berbgai situasi dan konteks kehidupan, manajemen diri yaitu kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi, kesadaran sosial yaitu kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, keterampilan berelasi yaitu membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan suportif, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab yaitu kemampuan mengambil pilihan-pilihan yang membangun berdasarkan kepedulian, dan perilaku untuk mencapai kesejahteraan psikologis atau well being.
  3. Lima kompetensi sosial dan emosional ini berhubungan erat dengan enam dimensi profil pelajar Pancasila, yang merupakan nilai kebajikan yang menjadi tujuan dari kurikulum Pendidikan.
  4. Lima kompetensi sosial dan emosional ini diharapkan dapat menghasilkan murid-murid yang berkarakter, disiplin, santun, jujur, peduli, responsive, proaktif, mendorong anak untuk memiliki rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan, sosial budaya, dan humaniora semuanya selaras dengan standar kompetensi lulusan dan standar isi dalanm satandar nasional Pendidikan.
  5. Dasar penguatan dari 5 KSE adalah mindfulness (kesadaran penuh), kesadaran penuh ini di mana kita mengarahkan sepenuhnya perhatian terhadap kegiatan yang dilakukan.
  6. Salah satu cara yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran penuh adalah Teknik STOP, yaitu berhenti sejenak, ambil nafas dalam, amati sensasi pada tubuh, perasaan, pikiran, dan lingkungan, dan selesai kemudian lanjutkan kembali aktivitas yang akan dilakukan.
  7. Kompetensi 5 KSE berdasarkan kesadaran penuh akan menciptakan kesejahteraan psikologis atau yang disebut dengan well-being.
  8. Implementasi pembelajaran sosial dan emosional dapat dilakukan dengan pembelajaran secara eksplisit dan terintegrasi dalam kurikulum akademik
  9. Pembelajaran sosial dan emosional dapat dilaksanakan dengan baik jika dilaksanakan secara kolaboratif yaitu di dalam kelas, sekolah, dan juga dalam keluarga serta komunitas.
  10. Pembelajaran sosial dan emosional pada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diperkuat dengan menjadi teladan, belajar, dam berkolaborasi.

4. Perubahan (Future):

Setelah pembelajaran pada modul ini penerapan dan perubahan yang ingin saya lakukan adalah

  1. Menerapkan pembelajaran sosial dan emosional dalam pembelajaran baik secara eksplisit maupun terintegrasi dalam kurikulum akademik maupun iklim dan budaya sekolah.
  2. Menginformasikan kepada warga sekolah tentang pembelajaran sosial dan emosional serta berkolaborasi kepada orang tua agar pembelajaran sosial dan emosional ini dapat terlaksana dengan optimal.
  3. Dengan mempelajari modul ini dan melakukan penerapan pembelajaran sosial dan emosional saya berharap dapat melakukan perubahan positif pada manajemen diri saya yang masih kurang dan dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab yang terkadang saya masih sulit untuk mengambil keputusan dan mempertimbangkan segala resiko dari keputusan yang diambil.
  4. Dalam penguatan pembelajaran sosial dan emosional selaku pendidik saya berharap dapat menjadi teladan dan contoh baik bagi murid maupun bagi lingkungan.




Sabtu, 04 Maret 2023

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.1 PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

 


JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN

Modul 2.1Pembelajaran Berdiferensiasi

Oleh: I Made Yasa, S.Pd.SD

CGP Angkatan 6 Kabupaten Lombok Barat 


Pada awal modul 2 ini, saya merefleksikan hasil dari kegiatan yang saya ikuti di LMS ini dalam bentuk jurnal refleksi. Jurnal Refleksi Minggu ke-9 ini membahas materi pada Modul 2.1 mengenai Pembelajaran Berdiferensiasi. Jurnal refleksi ini saya tulis sebagai media untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya lakukan. Model refleksi yang saya pakai adalah Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future)

Di minggu ke-9 saya akan coba merefleksi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Di minggu ini ada beberapa aktivitas pembelajaran yaitu diawali dengan Test Awal Paket Modul 2,dilanjutkan aktivitas pembelajaran di LMS dimulai dengan 2.1.a .3.Mulai dari diri, 2.1.a.4.Eksplorasi konsep, 2.1.a.5.1. Ruang Kolaborasi 1, 2.1.a.5.2. Ruang Kolaborasi 2 Google Meet; 2.1.a.6. Refleksi Terbimbing - Modul 2.1; 2.1.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Modul 2.1).


1. Facts (Peristiwa)

Aktivitas pertama yaitu Test Awal Paket Modul 2, dilanjutkan aktivitas pembelajaran di LMS dimulai dengan 2.1.a.3.Mulai dari diri, 2.1.a.4.Eksplorasi konsep, 2.1.a.5.1. Ruang Kolaborasi 1, 2.1.a.5.2.mempresentasikan hasil kolaborasi pertemuan sebelumnya tentang membuat RPP berdiferensiasi. Pada kesempatan kali ini kelompok saya kebagian presentasi ke-1 .Anggota kelompok kami yang terdiri dua orang yaitu : Bapak Akhmad Supriadi, S.Pd dan saya sendiri I Made yasa, S.Pd.SD. Syukurlah kami semua bisa hadir tepat waktu. Kami mempresentasikan RPP berdiferensiasi untuk jenjang SD. Banyak manfaat yang kami peroleh dari sesi ini. Saya jadi mengetahui bagaimana mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi ke dalam sebuah RPP, sehingga dapat mengakomodir kebutuhan belajar peserta didik. Berikutnya, saya melakukan Refleksi terbimbing. Kami diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan pemantik yang makin memperkuat kami meningkatkan pemahaman terkait pembelajaran berdiferensiasi. Di aktivitas ini tidak ada hambatan yang dirasakan karena di sesi ini bagaimana CGP menggali lebih dalam konsep pembelajaran berdiferensiasi. Aktivitas berikutnya yaitu demonstrasi kontekstual. Di aktivitas ini kami diminta membuat Rencana pembelajaran berdiferensiasi dan mengevaluasi efektivitas RPP yang dibuat oleh sesama rekan CGP. Disini, saya membuat RPP berdiferensiasi dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik ditinjau dari Profil Belajarnya.

2. Feelings (Perasaan)

Saya bahagia, antusias dan semangat mengikuti aktivitas pembelajaran di LMS ini. Pada modul 2.1. ini, Saya belajar menyusun RPP berdiferensiasi, belajar menyusun langka-langkah pembelajaran yang menyelaraskan dengan karakteristik peserta didik. Ada gambaran tindak lanjut seperti apa yang dapat diambil oleh saya sebagai bentuk tindakan yang mempertimbangkan kebutuhan belajar peserta didik.

3. Findings (Pembelajaran)

Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru akan diterima oleh saya sebagai calon guru penggerak pemimpin pembelajaran. Salah satu aplikasi nyata bagaimana seorang guru harus menghamba pada anak adalah mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi terhadap pelaksanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Pembelajaran yang mengakomodir seluruh kebutuhan peserta didik dari minat, kesiapan belajar dan profil belajar peserta didik.

4. Future (Penerapan)

Disini saya belajar untuk lebih memperhatikan kemampuan siswa dalam memilih aktivitas belajar yang sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki akan membantu menghindarkan siswa dari pengalaman belajar yang kurang tepat, kurang menyenangkan dan kurang berpihak pada murid. Selain itu, Saya coba untuk sharing kepada rekan sejawat tentang pembelajaran berdiferensiasi dengan harapan kami semua menjadi lebih memperhatikan minat dan profil belajar peserta didik dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran.



Jumat, 03 Maret 2023

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

 


JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN Modul 1.4 Budaya Positif

Nah, kali ini saya akan menulis refleksi saya tentang kegiatan pelatihan yang telah kami lalui, khususnya pada modul 1.4 tentang Budaya Positif. Dalam penulisan jurnal refleksi ini, saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (1. Fakta; 2. Perasaan; 3. Temuan; dan 4. Masa Depan), yang digagas oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P (1. Peristiwa; 2. Perasaan; 3. Pembelajaran; dan 4. Penerapan)

1. Fakta (Peristiwa)

Setelah saya mempelajari modul 1.1 tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hadjar Dewantara, modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Motivator, dan modul 1.3 Visi Guru Motivator. Setelah itu saya dan CGP Angkatan 6 Kabupaten Lobok Barat mulai belajar modul 1.4 tentang Budaya Positif secara online menggunakan LMS Pendidikan Guru, kegiatan ini menggunakan alur yang disebut alur MERDEKA yaitu :

(1) Mulai dari diri sendiri

Saya mulai belajar modul 1.4. dengan membuka link mulai dari diri sendiri. Disini saya diberi tugas untuk menjawab empat pertanyaan yaitu 1) pentingnya menciptakan suasana positif di lingkungan; 2) bagaimana saya menciptakan suasana positif di lingkungan saya; 3) hubungan penciptaan suasana positif dengan proses pembelajaran yang berpihak pada siswa; 4) penerapan kedisiplinan di sekolah saya saat ini, apakah sudah dilaksanakan secara efektif, bila belum apa masih perlu diperbaiki dan dikembangkan.

Selain keempat pertanyaan tersebut, saya juga menjawab pertanyaan tentang refleksi diri, ekspektasi terhadap diri sendiri, ekspektasi terhadap siswa, dan ekspektasi.

(2) Eksplorasi konsep

Pada bagian eksplorasi konsep, saya belajar enam materi penting dalam modul 1.4. Budaya Positif. Keenam bahan tersebut adalah:

1) Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal;

Menerapkan disiplin merupakan tanggung jawab dalam proses mendidik siswa di sekolah. Pelaksanaannya tentu harus berkolaborasi dengan semua pihak: menanamkan keteladanan dan kesadaran bahwa kedisiplinan melatih kita untuk bertanggung jawab dan menghargai satu hal, salah satunya adalah waktu.

2) Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi;

bahwa sebagai guru kita harus mampu menempatkan diri dan waktu yang tepat dalam menerapkan motivasi termasuk pujian dan hukuman. Motivasi intrinsik menjadi fokus utama yang harus dikembangkan karena bersifat berkelanjutan.

3) Keyakinan Kelas;

Keyakinan kelas adalah suatu gagasan yang diyakini oleh kelas dengan penuh keyakinan yang berasal dari hati dan dengan sukarela atau dengan senang hati melaksanakan keyakinan yang dibuat.

4) Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas;

Ada lima kebutuhan dasar manusia, kesenangan, penguasaan, cinta dan penerimaan, kebebasan, dan kelangsungan hidup. Ukuran kebahagiaan seseorang adalah ketika kelima kebutuhan dasar telah terpenuhi dengan baik.

5) Restitusi - Lima Posisi Kontrol;

Posisi kontrol guru, terdapat lima posisi dalam kontrol budaya positif, yaitu posisi penghukum, pembuat kesalahan, teman, pemantau, manajer. Dari kelima posisi kontrol guru tersebut, posisi manajer adalah yang paling ideal, karena ketika guru berada pada posisi ini, dia dapat memposisikan dirinya sebagai teman dan pengawas untuk menciptakan identitas yang sukses.

6) Restitusi - Segitiga Restitusi;

Segitiga restitusi merupakan tahapan penyelesaian konflik atau masalah dalam penerapan budaya positif. Langkah-langkahnya: pemantapan identitas ( stability identity ), pengesahan perbuatan salah ( validation of unbehaviour ), dan pencarian keyakinan .

(3) Ruang kolaborasi

Ruang kolaborasi dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah diskusi dengan anggota kelompok, dan bagian kedua adalah presentasi hasil diskusi kelompok. Semua itu dilakukan melalui GMeet yang dipandu oleh fasilitator Ibu Yulia Verawati. Di ruang kolaborasi ini, kami dibagi menjadi 4 kelompok dan saya berada di kelompok 1 bersama Pak Muhammad Taufiq, Bu Sukmawati, dan Bu Wanti Muhibbah.

(4) Demonstrasi kontekstual

Pada bagian Demonstrasi kontekstual ini, saya mendapat tugas membuat dua skenario penerapan segitiga restitusi. Setelah skenario dibuat, saya membuat video penerapan segitiga restitusi bersama siswa.

(5) Elaborasi pemahaman

Pada bagian ini saya ditugaskan untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memperkuat pemahaman saya terhadap isi modul 1.4. Budaya Positif.

Pertanyaan yang akan memperkuat pemahaman saya terhadap materi konsep pada modul 1.4 adalah:

1. Bagaimana cara yang paling tepat untuk mengimplementasikan Budaya Positif dan Nilai Kebajikan yang harus ada di sisi siswa?

2. Apa yang harus kita lakukan jika kita menghadapi siswa yang bermasalah dengan segitiga restitusi, tetapi siswa tersebut tidak berubah sama sekali?

Saya pun menjabarkan pengertian dengan instruktur melalui Gmeet dan Instruktur yang memandu kegiatan elaborasi adalah Bapak Wisnu Suprihadi.

(6) Koneksi antar material

Bagian ini merupakan penghubung antara materi yang telah saya pelajari dari modul 1.1, 1.2, 1.3, dan 1.4. Tugas pada bagian ini adalah menjelaskan pemahaman saya tentang konsep-konsep inti yang telah saya pelajari dalam modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, kepercayaan kelas, dan segitiga restitusi. Saya juga diminta untuk menjelaskan hal-hal yang menarik dan tidak terduga. Saya juga membuat rencana aksi nyata sebagai persiapan pelaksanaan aksi nyata modul 1.4.

(7) Tindakan nyata

Tindakan nyata berisi pemahaman saya tentang modul 1.4. yang diterapkan secara nyata. Dalam aksi nyata ini saya akan melaksanakan Sosialisasi Penerapan Budaya Positif, Membudayakan Budaya Bersih dan Menciptakan Suasana Nyaman di Kelas.

Selain melakukan kegiatan sesuai alur MERDEKA, pada hari Selasa, 25 Oktober 2022 Pukul 3.31 PM saya mengerjakan post test modul 1.4.

2. Perasaan

Selama saya mempelajari Modul 1.4. Budaya Positif, Perasaan Campur aduk. Hal yang paling menarik dalam implementasi budaya positif sebelum mempelajari modul ini adalah meyakini bahwa reward merupakan salah satu hal yang dapat memicu motivasi. Namun ternyata apresiasi sama berharganya dengan hukuman.

Saat memberikan penghargaan kita seolah-olah telah menghukum orang tersebut. Dikatakan demikian karena dengan memberikan apresiasi sebenarnya kita sedang memotong dan mencekik kreativitas seseorang sehingga secara tidak langsung kita sedang mempelajari sifat ketergantungan pada “pemberian”.

Oleh karena itu, saya akan selalu berusaha memberikan layanan pendidikan dengan keteladanan dan dorongan positif kepada siswa yang dapat membangkitkan motivasi intrinsik siswa.

antusias karena di modul 1.4. Saya dapat materi tentang budaya positif yang mencerahkan saya tentang penerapan budaya positif di sekolah. Saya dapat lebih memahami nilai-nilai kebajikan, posisi kontrol guru, teori motivasi, kepercayaan kelas, segitiga ganti rugi, dll. Saya bangga karena berkesempatan mempelajari materi yang sangat tidak biasa dan sangat bermanfaat ini. Saya senang karena bisa berkolaborasi dengan teman-teman CGP lainnya untuk membuat presentasi tentang analisis kasus berdasarkan konsep budaya positif.

3. Temuan (Pembelajaran)

Saya akan terus belajar dan memberi contoh dalam proses menumbuhkan budaya positif di lingkungan sekolah. Terus tanamkan pemahaman pribadi bahwa budaya positif akan hadir ketika pikiran kita positif.

Perhatikan kata-kata dari Presiden David O. Mackay bahwa:

"Jika kita menabur pikiran maka kita akan menuai tindakan.

Jika kita menabur tindakan maka kita akan menuai kebiasaan.

Jika kita menabur kebiasaan maka kita akan menuai karakter.

Jika kita menabur karakter maka kita akan menuai dan menciptakan takdir kita."

Betapa hebatnya kekuatan sebuah pemikiran. Jadi berangkat dari teori, semoga saya pribadi bisa bersama seluruh elemen sekolah menciptakan karakter positif di lingkungan sekolah yang bisa membudayakan.

Dalam Modul 1.4. Saya mendapat materi tentang konsep budaya positif yaitu :

1) Disiplin Positif dan Nilai Kebajikan Universal

2) Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi

3) Keyakinan Kelas

4) Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia yang Berkualitas

5) Lima Posisi Kontrol

6) Segitiga Restitusi

Saya juga bisa membuat contoh penerapan segitiga restitusi dengan siswa yang bisa dijadikan contoh bagi guru lain yang belum tahu tentang segitiga restitusi untuk membangun budaya positif di sekolah.

4. Masa Depan (Implementasi)

Setelah mempelajari modul 1.4 tentang budaya positif, saya akan terus memperbaiki diri dan menjadi teladan bagi siswa agar budaya positif dapat tercapai dan terus dilaksanakan secara berkesinambungan dalam proses pembelajaran di sekolah.

Melakukan pendekatan dari hati ke hati dengan anak didik saya, berusaha membenamkan diri dalam dunia mereka agar lebih memahami kebutuhan yang mereka butuhkan dalam mencapai kemandirian belajar sampai tujuan akhir sehingga mereka dapat memaknai proses pendidikan ini dengan cara yang menyenangkan dan menyenangkan. menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi keselamatan dan kebahagiaan mereka kelak, dengan demikian akan terwujud siswa-siswi berprofil siswa pancasila.

Demikianlah refleksi dwi-mingguan modul 1.4. bahwa saya bisa menulis. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

================ Bergerak, Bergerak, Bergerak ==================

FILE

JURNAL REFLEKSI LOKAKARYA 7 CGP A-6 KABUPATEN LOMBOK BARAT

  JURNAL REFLEKSI LOKAKARYA 7 CGP A-6 KABUPATEN LOMBOK BARAT By: I Made Yasa, S.Pd.SD Dari SDN 2 Pelangan Kec. Sekotong Kab Lombok Bar...

TERATAS