Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.1 Filosofi KHD
Pengikut
Senin, 26 September 2022
Minggu, 25 September 2022
Modul 1.2.a.8 KONEKSI ANTAR MATERI ( REFLEKSI MODEL 4F )
REFLEKSI MODEL 4F.
- FACT ( PERISTIWA )
- Dasar-Dasar Pendidikan KHD - Menuntun
- Kodrat Anak - Bermain
- Berpusat pada murid.
- Nilai & Peran Guru Penggerak
- Berpikir Cepat & Berpikir Lambat
- Bingung mau berbuat apa?
- Optimis harus bisa
- Antusias ingin tahu
- Senang dan Bahagia
- Harus kosentrasi penuh dalam mengikuti pendidikan guru penggerak ini.
- Tetap tenang dan selalu bersabar.
- Memiliki rencana untuk masa depan sekolah dan lingkungan sekitar agar menjadi yang terbaik dalam memimpin pembelajaran di sekolah.
- Tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang negatif selalu berpikir positif.
4. FUTURE ( PENERAPAN )
saya selalu menerapakan apa yang saya dapat dalam pendidikan guru penggerak ini antara lain :
- Berpihak pada murid
- Mandiri
- Inovatif
- Berkolaborasi
- Reflektif
1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) Mandiri; 3) Bergotong-royong; 4) Berkebinekaan global; 5) Bernalar kritis; 6) Kreatif.
============= Semoga bermanfaat bagi kita semua ===================
Selasa, 13 September 2022
DEMONSTRASI KONTEKSTUAL FILOSOFIS PENDIDIKAN NASIONAL - KI HADJAR DEWANTARA
FILOSOFIS PENDIDIKAN NASIONAL KI HADJAR DEWANTARA
Tujuan Dasar Pendidikan adalah "menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat”(KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraph 4)
“Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak” (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraph 5).
Trilogi/ semboyan pendidikan yang harus dipahami oleh seorang Pendidik yaitu :
- Ing Ngarso Sung Tulodho artinya seorang guru adalah pendidik yang harus memberi contoh atau menjadi panutan.
- Ing Madyo Mangun Karso artinya seorang guru adalah pendidik yang selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus-menerus membangun semangat dan ide-ide mereka untuk berkarya.
- Tut Wuri Handayani artinya seorang guru adalah pendidik yang terus-menerus menuntun, menopang dan menunjuk arah yang benar bagi hidup dan karya anak-anak didiknya.
Asas Trikon ( Ki Hadjar Dewantara ) untuk pengembangan pendidikan :
- Kontinuitas ( tidak melupakan akar budaya ) artinya pengembangan yang dilakukan harus berkesinambungan, dilakukan secara terus-menerus dengan perencanaan yang baik. Suatu kondisi yang baik tidak mungkin dapat dicapai dalam sekali waktu seperti sebuah sulap ( bin salab bin ) harus tahap demi tahap.
- Konvergensi ( Pendidikan harus memanusiakan manusia ) artinya pengembangan yang dilakukan dapat diambil dari berbagai sumber di luar, sehingga memunculkan tiga praktik dalam filosofis KHD yakni : a. Montisori ( olah panca indra ), b. Probel ( olah permainan ) dan c. Taman Siswa ( perpaduan antara olah panca indra dengan olah permainan sehingga ada rasa bahagia dalam permainan tersebut).
- Konsentris ( Pendidikan harus menghargai keberagaman dan memerdekakan murid ) artinya pengembangan pendidikan yang dilakukan harus tetap berdasarkan keperibadian kita sendiri, sesuai dengan karakter kebudayaannya sendiri, namun tetap semua itu ditempatkan secara konsentris dengan karakter budaya kita sebagai pusatnya.
Peran Pendidik diibaratkan seorang Petani atau tukang kebun yang tugasnya adalah merawat sesuai kebutuhan dari tanaman-tanamannya itu agar tumbuh dan berbuah dengan baik, tentu saja beda jenis tanaman beda perlakuanya. Artinya bahwa kita seorang pendidik harus bisa melayani segala bentuk kebutuhan metode belajar siswa yang berbeda-beda (berorientasi pada anak). Kita harus bisa memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan ide, berfikir kreatif, mengembangkan bakat/minat siswa (merdeka belajar), tapi kebebasan itu bukan berarti kebebasan mutlak, perlu tuntunan dan arahan dari guru supaya anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.
- Kurangnya pemahaman mendalam bahwa penanaman nilai-nilai budi pekerti, pikiran dan perkembangan tubuh anak tidak bisa dipukul rata, apa lagi dengan kurikulum yang cenderung berubah-ubah dan kurang mantap dipersiapkan. Hal ini menyebabkan anak dipaksa / terpaksa belajar mengikuti kurikulum, tanpa ada kesadaran.
- Budaya instan dan kegilaan orang dalam melihat nilai. Orang ingin instan sehingga kebanyakan pendidikan hanya menekankan cara tercepat agar si anak dapat nilai yang baik yang dipandangnya penting untuk mencari pekerjaan. Orang menjadi tergila-gila terhadap nilai (akademis) dengan mengabaikan proses yang harus dilalui. Pendidikan menjadi sekadar agar anak ahli, sedangkan pendidikan untuk menjadi baik sangat minim.
- Kurangnya kesadaran bangsa Indonesia untuk menjadi Negara yang maju. Pendidikan Indonesia hanya terfokuskan pada materi/teori dalam pengajaran, padahal itu semua kurang diterapkan dalam praktik dan pengalaman.
Hampir semua orang Indonesia berpikir bahwa pendidikan dan pembelajaran adalah sama. Pendidikan dalam bahasa Latin adalah educare, yang berarti menggiring keluar, semacam usaha pemuliaan atau pembentukan manusia. Maka prosesnya adalah informal. Tidak ada pendidikan formal, karena tidak mungkin. Seluruh proses pemuliaan, ialah pembentukan moral manusia muda hanya mungkin lewat interaksi informal antara dia dan lingkungan hidup manusia muda. Jadi, kesimpulan yang paling mendasar ialah bahwa lembaga pertama dan utama pembentukan dan pendidikan adalah keluarga. Lih. J. Drost, Sj, 1999. Proses Pembelajaran Sebagai Proses Pendidikan, Grasindo, Jakarta, hal. 1-2.
Solusi pemikiran KHD sesuai dengan konteks kelas dan sekolah :
- Mengedepankan upaya pemanusiaan secara seutuhnya dalam seluruh praksis pendidikan. Artinya, aktivitas pendidikan dimaksudkan pertama-tama untuk mengembangkan kemanusiaan peserta didik secara utuh dan penuh. Dalam praksisnya potensi-potensi peserta didik dikembangkan secara terintegrasi (kognitif, afektif, psikomotor, konatif, sosial dan spiritual).
- Senantiasa meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan. Artinya, ketersediaan sarana (gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, komputer) dan prasarana (kursi, meja, papan tulis, alat-alat peraga) merupakan prasyarat dasar bagi pelaksanaan pendidikan yang memadai.
- Lembaga pendidikan bertanggungjawab dalam menyiapkan pelaku pendidikan (guru-guru) yang profesional dan memiliki integritas diri.
- Menghidupkan dan menerapkan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan itu pada dasarnya dimaksudkan untuk membebaskan lahiriah dan batiniah.
- Menjamin bahwa proses pendidikan tidak lagi dominasi kognitif, tapi membangun sinergi pengembangan potensi-potensi (kognitif, afektif, psikomotor, konatif, sosial, spiritual). Dengan demikian, out put pendidikan tidak hanya berakal, tetapi juga bermoral.
- Meningkatkan kualitas diri dan memahami harapan dan keinginan anak didik.
- Yang harus dilakukan para pendidik dan lembaga pendidikan adalah tidak hanya mengasah kemampuan kognitif belaka, tapi juga membangun sinergi pengetahuan dengan potensipotensi anak didik. Maka hendaknya pendidik menyesuaikan atau membuat standard pendidikan yang lebih baik, pengajar dan metode yang lebih baik juga.
- Membuat suatu rancangan dasar pengajaran dengan basis dan semboyan Ki Hadjar Dewantara. Mencoba sistem pengajaran tersebut dan mengevaluasi hasilnya. Kalau perlu diadakan perbandingan antara sistem berbasis Ki Hadjar Dewantara dengan yang tidak berbasis Ki Hadjar Dewantara.
- Menerapkan pendidikan yang menekankan peran guru sebagai pendamping dengan cara memotivasi perkembangan dan bakat mereka (anak didik. red), membangun suasana kelas yang aktif sehingga anak-anak menjadi kreatif dan bebas mengemuka-kan pendapat serta terarah.
FILE
JURNAL REFLEKSI LOKAKARYA 7 CGP A-6 KABUPATEN LOMBOK BARAT
JURNAL REFLEKSI LOKAKARYA 7 CGP A-6 KABUPATEN LOMBOK BARAT By: I Made Yasa, S.Pd.SD Dari SDN 2 Pelangan Kec. Sekotong Kab Lombok Bar...
TERATAS
-
JURNAL REFLEKSI DUA MINGGUAN (Modul 2.3) COACHING untuk supervisi akademik Pada modul 2.3 ini, saya merefleksi hasil kegiatan yang say...
-
Hari Ulang Tahun PGRI adalah hari yang diperingati oleh para guru di Republik Indonesia ini, yaitu berdirinya sebuah wadah atau organisasi...
-
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA Oleh : I Made Yasa, S.Pd.SD Dari SDN 2 Pelangan Kec. Sekot...











