Pengikut

Jumat, 03 Maret 2023

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

 


JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN Modul 1.4 Budaya Positif

Nah, kali ini saya akan menulis refleksi saya tentang kegiatan pelatihan yang telah kami lalui, khususnya pada modul 1.4 tentang Budaya Positif. Dalam penulisan jurnal refleksi ini, saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (1. Fakta; 2. Perasaan; 3. Temuan; dan 4. Masa Depan), yang digagas oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P (1. Peristiwa; 2. Perasaan; 3. Pembelajaran; dan 4. Penerapan)

1. Fakta (Peristiwa)

Setelah saya mempelajari modul 1.1 tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hadjar Dewantara, modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Motivator, dan modul 1.3 Visi Guru Motivator. Setelah itu saya dan CGP Angkatan 6 Kabupaten Lobok Barat mulai belajar modul 1.4 tentang Budaya Positif secara online menggunakan LMS Pendidikan Guru, kegiatan ini menggunakan alur yang disebut alur MERDEKA yaitu :

(1) Mulai dari diri sendiri

Saya mulai belajar modul 1.4. dengan membuka link mulai dari diri sendiri. Disini saya diberi tugas untuk menjawab empat pertanyaan yaitu 1) pentingnya menciptakan suasana positif di lingkungan; 2) bagaimana saya menciptakan suasana positif di lingkungan saya; 3) hubungan penciptaan suasana positif dengan proses pembelajaran yang berpihak pada siswa; 4) penerapan kedisiplinan di sekolah saya saat ini, apakah sudah dilaksanakan secara efektif, bila belum apa masih perlu diperbaiki dan dikembangkan.

Selain keempat pertanyaan tersebut, saya juga menjawab pertanyaan tentang refleksi diri, ekspektasi terhadap diri sendiri, ekspektasi terhadap siswa, dan ekspektasi.

(2) Eksplorasi konsep

Pada bagian eksplorasi konsep, saya belajar enam materi penting dalam modul 1.4. Budaya Positif. Keenam bahan tersebut adalah:

1) Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal;

Menerapkan disiplin merupakan tanggung jawab dalam proses mendidik siswa di sekolah. Pelaksanaannya tentu harus berkolaborasi dengan semua pihak: menanamkan keteladanan dan kesadaran bahwa kedisiplinan melatih kita untuk bertanggung jawab dan menghargai satu hal, salah satunya adalah waktu.

2) Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi;

bahwa sebagai guru kita harus mampu menempatkan diri dan waktu yang tepat dalam menerapkan motivasi termasuk pujian dan hukuman. Motivasi intrinsik menjadi fokus utama yang harus dikembangkan karena bersifat berkelanjutan.

3) Keyakinan Kelas;

Keyakinan kelas adalah suatu gagasan yang diyakini oleh kelas dengan penuh keyakinan yang berasal dari hati dan dengan sukarela atau dengan senang hati melaksanakan keyakinan yang dibuat.

4) Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas;

Ada lima kebutuhan dasar manusia, kesenangan, penguasaan, cinta dan penerimaan, kebebasan, dan kelangsungan hidup. Ukuran kebahagiaan seseorang adalah ketika kelima kebutuhan dasar telah terpenuhi dengan baik.

5) Restitusi - Lima Posisi Kontrol;

Posisi kontrol guru, terdapat lima posisi dalam kontrol budaya positif, yaitu posisi penghukum, pembuat kesalahan, teman, pemantau, manajer. Dari kelima posisi kontrol guru tersebut, posisi manajer adalah yang paling ideal, karena ketika guru berada pada posisi ini, dia dapat memposisikan dirinya sebagai teman dan pengawas untuk menciptakan identitas yang sukses.

6) Restitusi - Segitiga Restitusi;

Segitiga restitusi merupakan tahapan penyelesaian konflik atau masalah dalam penerapan budaya positif. Langkah-langkahnya: pemantapan identitas ( stability identity ), pengesahan perbuatan salah ( validation of unbehaviour ), dan pencarian keyakinan .

(3) Ruang kolaborasi

Ruang kolaborasi dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah diskusi dengan anggota kelompok, dan bagian kedua adalah presentasi hasil diskusi kelompok. Semua itu dilakukan melalui GMeet yang dipandu oleh fasilitator Ibu Yulia Verawati. Di ruang kolaborasi ini, kami dibagi menjadi 4 kelompok dan saya berada di kelompok 1 bersama Pak Muhammad Taufiq, Bu Sukmawati, dan Bu Wanti Muhibbah.

(4) Demonstrasi kontekstual

Pada bagian Demonstrasi kontekstual ini, saya mendapat tugas membuat dua skenario penerapan segitiga restitusi. Setelah skenario dibuat, saya membuat video penerapan segitiga restitusi bersama siswa.

(5) Elaborasi pemahaman

Pada bagian ini saya ditugaskan untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memperkuat pemahaman saya terhadap isi modul 1.4. Budaya Positif.

Pertanyaan yang akan memperkuat pemahaman saya terhadap materi konsep pada modul 1.4 adalah:

1. Bagaimana cara yang paling tepat untuk mengimplementasikan Budaya Positif dan Nilai Kebajikan yang harus ada di sisi siswa?

2. Apa yang harus kita lakukan jika kita menghadapi siswa yang bermasalah dengan segitiga restitusi, tetapi siswa tersebut tidak berubah sama sekali?

Saya pun menjabarkan pengertian dengan instruktur melalui Gmeet dan Instruktur yang memandu kegiatan elaborasi adalah Bapak Wisnu Suprihadi.

(6) Koneksi antar material

Bagian ini merupakan penghubung antara materi yang telah saya pelajari dari modul 1.1, 1.2, 1.3, dan 1.4. Tugas pada bagian ini adalah menjelaskan pemahaman saya tentang konsep-konsep inti yang telah saya pelajari dalam modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, kepercayaan kelas, dan segitiga restitusi. Saya juga diminta untuk menjelaskan hal-hal yang menarik dan tidak terduga. Saya juga membuat rencana aksi nyata sebagai persiapan pelaksanaan aksi nyata modul 1.4.

(7) Tindakan nyata

Tindakan nyata berisi pemahaman saya tentang modul 1.4. yang diterapkan secara nyata. Dalam aksi nyata ini saya akan melaksanakan Sosialisasi Penerapan Budaya Positif, Membudayakan Budaya Bersih dan Menciptakan Suasana Nyaman di Kelas.

Selain melakukan kegiatan sesuai alur MERDEKA, pada hari Selasa, 25 Oktober 2022 Pukul 3.31 PM saya mengerjakan post test modul 1.4.

2. Perasaan

Selama saya mempelajari Modul 1.4. Budaya Positif, Perasaan Campur aduk. Hal yang paling menarik dalam implementasi budaya positif sebelum mempelajari modul ini adalah meyakini bahwa reward merupakan salah satu hal yang dapat memicu motivasi. Namun ternyata apresiasi sama berharganya dengan hukuman.

Saat memberikan penghargaan kita seolah-olah telah menghukum orang tersebut. Dikatakan demikian karena dengan memberikan apresiasi sebenarnya kita sedang memotong dan mencekik kreativitas seseorang sehingga secara tidak langsung kita sedang mempelajari sifat ketergantungan pada “pemberian”.

Oleh karena itu, saya akan selalu berusaha memberikan layanan pendidikan dengan keteladanan dan dorongan positif kepada siswa yang dapat membangkitkan motivasi intrinsik siswa.

antusias karena di modul 1.4. Saya dapat materi tentang budaya positif yang mencerahkan saya tentang penerapan budaya positif di sekolah. Saya dapat lebih memahami nilai-nilai kebajikan, posisi kontrol guru, teori motivasi, kepercayaan kelas, segitiga ganti rugi, dll. Saya bangga karena berkesempatan mempelajari materi yang sangat tidak biasa dan sangat bermanfaat ini. Saya senang karena bisa berkolaborasi dengan teman-teman CGP lainnya untuk membuat presentasi tentang analisis kasus berdasarkan konsep budaya positif.

3. Temuan (Pembelajaran)

Saya akan terus belajar dan memberi contoh dalam proses menumbuhkan budaya positif di lingkungan sekolah. Terus tanamkan pemahaman pribadi bahwa budaya positif akan hadir ketika pikiran kita positif.

Perhatikan kata-kata dari Presiden David O. Mackay bahwa:

"Jika kita menabur pikiran maka kita akan menuai tindakan.

Jika kita menabur tindakan maka kita akan menuai kebiasaan.

Jika kita menabur kebiasaan maka kita akan menuai karakter.

Jika kita menabur karakter maka kita akan menuai dan menciptakan takdir kita."

Betapa hebatnya kekuatan sebuah pemikiran. Jadi berangkat dari teori, semoga saya pribadi bisa bersama seluruh elemen sekolah menciptakan karakter positif di lingkungan sekolah yang bisa membudayakan.

Dalam Modul 1.4. Saya mendapat materi tentang konsep budaya positif yaitu :

1) Disiplin Positif dan Nilai Kebajikan Universal

2) Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi

3) Keyakinan Kelas

4) Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia yang Berkualitas

5) Lima Posisi Kontrol

6) Segitiga Restitusi

Saya juga bisa membuat contoh penerapan segitiga restitusi dengan siswa yang bisa dijadikan contoh bagi guru lain yang belum tahu tentang segitiga restitusi untuk membangun budaya positif di sekolah.

4. Masa Depan (Implementasi)

Setelah mempelajari modul 1.4 tentang budaya positif, saya akan terus memperbaiki diri dan menjadi teladan bagi siswa agar budaya positif dapat tercapai dan terus dilaksanakan secara berkesinambungan dalam proses pembelajaran di sekolah.

Melakukan pendekatan dari hati ke hati dengan anak didik saya, berusaha membenamkan diri dalam dunia mereka agar lebih memahami kebutuhan yang mereka butuhkan dalam mencapai kemandirian belajar sampai tujuan akhir sehingga mereka dapat memaknai proses pendidikan ini dengan cara yang menyenangkan dan menyenangkan. menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi keselamatan dan kebahagiaan mereka kelak, dengan demikian akan terwujud siswa-siswi berprofil siswa pancasila.

Demikianlah refleksi dwi-mingguan modul 1.4. bahwa saya bisa menulis. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

================ Bergerak, Bergerak, Bergerak ==================

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILE

JURNAL REFLEKSI LOKAKARYA 7 CGP A-6 KABUPATEN LOMBOK BARAT

  JURNAL REFLEKSI LOKAKARYA 7 CGP A-6 KABUPATEN LOMBOK BARAT By: I Made Yasa, S.Pd.SD Dari SDN 2 Pelangan Kec. Sekotong Kab Lombok Bar...

TERATAS