Pengikut

Minggu, 27 November 2022

MODUL 2.2.a.8 KONEKSI ANTAR MATERI






MODUL 2.2.a.8  KONEKSI ANTAR MATERI

Oleh:

 I Made Yasa, S.Pd.SD

SDN 2 Pelangan

CGP A-6 Kab. Lombok Barat

Menurut Ki Hajar Dewantara, guru diibaratkan seorang petani dan murid adalah benihnya. Seorang petani tugasnya adalah merawat dan menjaga benih-benih itu, tentu saja benih yang tumbuh itu berbeda-beda dalam perkembangannya dan juga berbeda jenisnya. Misalkan untuk merawat benih jagung tentu saja akan berbeda dengan merawat benih padi. Seorang petani harus memberikan perawatannya sesuai dengan kebutuhan benih-benih yang berbeda tadi sampai semuanya berbuah.

Begitu juga kita sebagai guru harus jeli dalam melihat keberagaman kebutuhan siswa, ada yang lambat, sedang, dan cepat. Ada yang suka agama, sains, seni, olahraga, dan sebagainya. Ada yang suka belajar dengan cepat melalui penglihatan, pendengaran, atau kinestetik. Semua harus kita akomodir dalam proses pembelajaran.

Kita sadari betul bahwa untuk melakukan sebuah perubahan itu dibutuhkan tekad dan upaya yang keras, konsisten, dan berkesinambungan serta kolaborasi dengan semua pihak. Untuk itu seorang guru harus mempunyai sebuah visi yang jelas, visi yang berpihak pada murid, visi yang terukur dan realistis sesuai dengan kondisi dan lingkungan masing-masing. Melangkah sedikit demi sedikit dan konsisten dilakukan lebih baik daripada berlari namun terus berhenti. Itulah sejatinya GURU PENGGERAK.

Pembelajaran berdiferensiasi yag dilakukan oleh seorang guru menjadi jawaban atas kebutuhan individu murid yang berbeda-beda berdasarkan kodrat alam dan zamannya. Pembelajaran berdiferensiasi akan memenuhi setiap kebutuhan masing-masing murid dengan memperhatikan faktor kesiapan murid, minat/bakat, dan gaya belajar murid.

Dalam proses pembelajaran hendaknya guru juga memasukan pembelajaran sosil-emosional. Apakah pembelajaran sosial-emosianal itu? Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) adalah hal yang sangat penting. Pembelajaran ini berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, juga untuk mengajarkan mereka menjadi orang yang baik. Tidak bisa dipungkiri dalam melaksanakan tugas sebagai guru, pasti banyak masalah yang kita hadapi. Baik itu masalah dari murid, rekan kerja, orang tua, atasan, atau pun masalah yang timbul dari banyaknya tuntutan pekerjaan yang membuat stress atau tertekan.Keadaan seperti ini tentunya akan mengganggu proses pembelajaran di kelas. Kontrol emosi menjadi tidak stabil. Oleh karena itu, berkesadaran penuh (mindfulness) menjadi sesuatu yang harus dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.


Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat pembelajaran sosial emosional pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah:

1. Memodelkan (menjadi teladan): Mendukung pendidik dan tenaga kependidikan dalam memodelkan kompetensi dan pola pikir di seluruh komunitas sekolah dengan murid, keluarga murid, mitra komunitas, dan satu sama lain. Ini dapat meliputi: 

● Menerapkan kompetensi sosial emosional dalam peran dan tugas 

 ● Menciptakan budaya mengapresiasi 

● Menunjukkan kepedulian 

2. Belajar: pendidik dan tenaga kependidikan merefleksikan kompetensi sosial dan emosional pribadi dan mengembangkan kapasitas untuk mengimplementasikan kompetensi sosial dan emosional. Kegiatan ini dapat meliputi: 

● Membiasakan merefleksikan kompetensi sosial dan emosional pribadi 

● Berkolaborasi di tempat kerja 

● Mempelajari kemungkinan adanya bias terkait dengan literasi budaya

 ● Mengembangkan pola pikir bertumbuh 

● Memahami tahapan perkembangan murid 

● Meluangkan waktu untuk melakukan self-care (perawatan diri)

 ● Mengagendakan sesi berbagi praktik baik

Lalu apa hubungannya berkesadaran penuh (mindfulness) dengan pembelajaran sosial-emosianal? Menurut Hawkins (2017) latihan berkesadaran penuh (mindfulness) dapat membangun keterhubungan diri sendiri (self-awareness) dengan berbagai kompetensi emosi dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi berkesadaran penuh, niscaya kita bisa merespons sesuatu hal atau masalah dengan baik dan mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab. Kita bisa melatih diri berkesadaran penuh dengan teknik S-T-O-P. STOP merupakan akronim dari:

S – Stop: kita berhenti sejenak dari aktivitas atau kegiatan

T – Take a deep breathe (tarik nafas dalam)

O - Obeserve (amati)

P – Proceed (lanjutkan)

Adapun kompetensi sosial-emosional adalah sebagai berikut:

1.      Kesadaran diri – pengenalan emosi

2.      Pengelolaan diri – pengelolaan diri dan fokus

3.      Kesadaran sosial – empati

4.      Keterampilan sosial – resiliensi

5.       Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

Gambar Pembelajaran Sosial Emosional Berbasis Kesadaran Penuh

Contoh-contoh teknik yang dapat menumbuhkembagkan kompetensi sosial dan emosianal :

  1. Membuat kolase diri
  2. Memeriksa perasaan diri
  3. Menuliskan ucapan terima kasih
  4. Mengidentifikasi emosi
  5. Mindful eating
  6. Cari teman baru
  7. Mengenali situasi menantang
  8. Latihan menyadari kondisi tubuh (body scanning)
  9. Kegiatan menulis surat
  10. Kegiatan role play komunikasi aktif
  11. Kegiatan menulis pengalaman bekerja sama dalam kelompok

Berikut adalah contoh teknik KSE dalam ruang lingkup rutin, terintegrasi dalam pelajaran, dan protokol (budaya/tata tertib?

1.      RUANG LINGKUP: RUTIN

NO

KSE

TEKNIK PEMBELAJARAN KSE

(sesuai dengan jenjang pendidikan murid)

1

Kesadaran Diri

Pengenalan Emosi

1.      Teknik: daily check in

2.      Penjelasan tentang apa yang dilakukan guru: Ajak anak menceritakan perasaannya ketika datang ke sekolah

3.      Penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid: Mintalah anak untuk menceritakan perasaannya ketika datang ke sekolah, kemudian memilih symbol emoticon yang sesuai dan ditempel di papan emoticon.

4.      Penjelasan tentang tujuan: Menumbuhkan kesadaran diri, pengenalan emosi dan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak usia dini

2

Pengelolaan Diri

Mengelola Emosi Dan Fokus

1.      Teknik: Antri ketika cuci tangan

2.      Penjelasan tentang apa yang dilakukan guru: Anak dibiasakan untuk membudayakan antri

3.      Penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid: mintalah anak untuk berbaris antri ketika melakukan kegiatan cuci tangan

4.      Penjelasan tentang tujuan: Menumbuhkan kemampuan mengelola diri, mengelola emosi dan fokus

3

Kesadaran Sosial

Keterampilan Berempati

1.      Teknik: Bakti sosial hari Jum’at

2.      Penjelasan tentang apa yang dilakukan guru: Ajak anak untuk melaksanakan bakti sosial pada hari jum’at

3.      Penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid: mintalah anak untuk belajar berbagi kepada yang tidak mampu dengan melaksanakan kegiatan bakti sosial.

4.      Penjelasan tentang tujuan: Menumbuhkan keterampilan berempati pada anak

4

Keterampilan Berhubungan Sosial

Daya Lenting (Resiliensi)

1.      Teknik: Kegiatan Makan Bersama

2.      Penjelasan tentang apa yang dilakukan guru: Ajak anak untuk melaksanakan kegiatan makan bersama dan saling berbagi makanan yang dibawanya.

3.      Penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid: mintalah anak untuk melaksanakan kegiatan makan bersama dan saling berbagi makanan yang dibawa dengan temannya.

4.      Penjelasan tentang tujuan: Meningkatkan kemampuan anak untuk berhubungan social, bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan.

5

Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab

1.      Teknik: Cleaning Up

2.      Penjelasan tentang apa yang dilakukan guru: Ajak anak untuk membersihkan dan membereskan alat-alat yang digunakan setelah melaksanakan kegiatan. 

3.      Penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid: mintalah anak untuk selalu membersihkan dan membereskan alat-alat yang digunakan setelah melaksanakan kegiatan.

4.      Penjelasan tentang tujuan: Menumbuhkan rasa tanggung jawab dan belajar mengambil keputusan.

1.    2.      RUANG LINGKUP: TERINTEGRASI DALAM MATA PELAJARAN

       

NO

KSE

TEKNIK PEMBELAJARAN KSE

(sesuai dengan jenjang pendidikan murid)

1

Kesadaran Diri

Pengenalan Emosi

1.    Teknik: Bermain DaSi(Dadu Emosi)

2.  Penjelasan tentang apa yang  guru: Ajak anak untuk bermain permainan Dadu Emosi,

3.   Penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid: Minta anak untuk melempar dadu memperagakan apa yang ada di dadu tersebut, misal dadunya menunjuk emoticon sedih.anak tersebut memperagakan emosi sedih

4.  Penjelasan tentang tujuan: meningkatkan kemampuan mereka untuk mengekspresikan emosi

2

Pengelolaan Diri

Mengelola Emosi Dan Fokus

1. Teknik: Craft Topi “Jadi diri saya yang terbaik" 

2. Penjelasan tentang apa yang dilakukan guru: Ajak anak diskusi bagaimana anak-anak dapat menjadi diri yang terbaik mereka saat belajar

3. Penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid: Minta anak untuk mewarnai dan membuat topi mereka

4. Penjelasan tentang tujuan: membangun keterampilan manajemen diri

3

Kesadaran Sosial

Keterampilan Berempati

1. Teknik: Menonton video/film

2. Penjelasan tentang apa yang dilakukan guru: Ajak anak menonton sebuah film anak

3. Penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid: Mintalah anak berhenti sejenak untuk membahas perasaan atau emosi, konsekuensi atau konsep berharga lainnya

4. Penjelasan tentang tujuan: memahami orang lain dan perasaan serta perspektif mereka.

4

Keterampilan Berhubungan Sosial

Daya Lenting (Resiliensi)

1.      Teknik: Menyanyi 4 kata ajaib (Maaf, tolong, terimakasih, permisi)

2.      Penjelasan tentang apa yang dilakukan guru: Ajak anak untuk menyanyi bersama lagu 4 kata ajaib

3.      Penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid: Minta anak mempraktekkan kata tersebut

4.      Penjelasan tentang tujuan: Interaksi dengan orang lain akan membantu mengembangkan keterampilan berhubungan sosial

5

Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab

1.      Teknik: LK jempol ke atas ke bawah

2.      Penjelasan tentang apa yang dilakukan guru: Ajak anak untuk mengamati LK yang disediakan

3.      Penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid: Minta anak memilih apakah gambar tersebut baik atau tidak, jempol ke atas atau ke bawah

4.      Penjelasan tentang tujuan: mengetahui cara membuat keputusan yang baik untuk menjadi diri Anda yang terbaik.


     3. RUANG LINGKUP: PROTOKOL ( Budaya atau Tata Tertib )

       

NO

KSE

TEKNIK PEMBELAJARAN KSE

(sesuai dengan jenjang pendidikan murid)

1

Kesadaran Diri

Pengenalan Emosi

  1. Teknik : ibadah
  2. Yang dilakukan guru : meminta murid untuk melaksanakan solat dengan khusyuk
  3. Yang dikatakan pada siswa : ibadahlah dengan khusyuk dan kalian bertanggung jawab langsung kepda Tuhan atas ibadah yang kalian lakukan, jika beribadah sambil bermain maka Tuhan tidak akan senang.
  4. Tujuan : mengenal emosi tenang dan khusyuk ketika beribadah sehingga tidak menggangu teman lain yang sedang beribadah

2

Pengelolaan Diri

Mengelola Emosi Dan Fokus

1.      Teknik : Budaya 5S

2.      Penjelasan tentang apa yang dilakukan guru: Guru memberikan teladan kepada siswa dengan memberi salam kepada siswa, senyum, menyapa siswa, dan menunjukkan sikap sopan dan santun baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah (di luar jam pembelajaran).

3.      Penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid: Guru mengatakan salam kepada siswa. “Assalamu’alaikum nak. Sedang apa? atau “bagaimana kabarmu” dan sebagainya. Guru memberi salam dan menyapa siswa sambil tersenyum. Nada bahasa yang lemah lembut disertai gestur tubuh yang beretika.

4.      Penjelasan tentang tujuan: Membiasakan siswa untuk berperilaku baik, berbudi pekerti luhur yang dilandasi dengan kesadaran dan menumbuhkan karakter positif dalam diri siswa. Hal ini ditujukan pula untuk melatih fokus siswa dari suatu hal ke hal lainnya.

3

Kesadaran Sosial

Keterampilan Berempati

1. Teknik : Pembiasaan Inpak Shadaqah Pada Hari Jumat

2. Penjelasan apa yang dilakukan guru:

Guru bercerita tentang bencana alam yang sedang terjadi sekarang ini misalnya, tentang banjir, longsor, atau menayangkan video yang terkena bencana alam  misalkan banjir, longsor, tsunami dll, mengajak murid untuk memikirkan bagaimana bila musibah  tersebut dialami oleh mereka,  murid di suruh menuliskan perasaan mereka pada selembar kertas setelah mendengarkan cerita atau menonton video tersebut. Mengajak  murid untuk praktek langsung membantu orang lain yang sedang membutuhkan, misalnya memberi uang kepada pengemis di jalan, membantu teman yang mendapat kesusahan mengajak murid untuk menjenguk orang sakit dll

3. Penjelasan tentang apa yang dikatakan kepada murid:

Coba amati video yang ditayangkan, kemudian bayangkan jika yang terjadi dalam video tersebut teralami oleh kalian, dan bagaimana perasaan kalian?

Apa yang kalian bisa lakukan untuk meringankan penderitaan mereka?

dll

4. Penjelasan tentang tujuan:

Untuk menumbuhkan sikap peduli terhadap sesama yang terkena musibah.

4

Keterampilan Berhubungan Sosial

Daya Lenting (Resiliensi)

1.      Teknik: Pendekatan Personal

2.      Penjelasan tentang apa yang dilakukan guru:

Jika ada siswa yang melakukan pelanggaran kesepakatan kelas, guru memanggil siswa tersebut ke ruang guru atau ruangan khusus di luar jam pelajaran. Kemudian, guru melakukan pendekatan personal terhadap siswa tersebut.

3.      Penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid:

Setelah berhadapan dengan siswa, guru mengatakan bahwa guru ingin memahami dan mendengarkan alasan dari siswa tersebut dan memberi solusi sebagai konsekuensi atas apa yang telah dia perbuat. Guru memberikan nasihat dan motivasi agar siswa tersebut tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari.

4.      Penjelasan tentang tujuan:

Membiasakan siswa untuk menerima konsekuensi, bertanggung jawab dan membangun motivasi diri untuk lebih baik.

5

Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab

1.      Teknik: Mebuat kesepakatan kelas dan memberikan fleksibilitas tentang kesulitan pembelajaran dikelas.

2.      Penjelasan tentang apa yang dilakukan guru:

·         Memberikan motivasi kepada siswa agar mampu menyebutkan ide aturan di kelas.

·         Menuntun siswa dalam musyawarah dalam pembuatan aturan yang akan diterapkan dikelas.

·         Membuat kesepakatan aturan apa saja yang akan diterapkan dikelas ,kemudian melaksanakan atturan tersebut dan yang melanggar akan terkena konsekuensi logis yang sudah disepakati.

·         Melakukan penelitian dan pendekatan pribadi kepada siswa, mencari tahu kesulitan tiap siswa yang berbeda, setelah diketahui, guru memberikan keringan kepada setipa anak dalam mengerjakan tugas belajarnya dan kemudian anak bisa membuat keputusan pelajaran mana dulu yang akan dikerjakan dengan tetap mengerjakan pelajaran yang mereka anggap sulit dengan meminta bantuan mengerjakannya kepada guru.

 

3.      Penjelasan tentang apa yang dikatakan pada murid:

·         Anak soleh solehah hari ini kita akan membuat kesepakatan kelas,ini adalah aturan yang akan berlaku selama kita ada di dalam kelas, baik itu aturan untuk belajar dan disiplin bertatakrama di kelas.

·         Setelah semua ide terkumpul ,lalu dimusyawarahkan aturan mana saja yang akan disepakati,setelah sepakat aturan yang akan diberlakukan di kelas, warga kelas sepakat untuk melaksanakan dan menanati aturan tersebut.

·         Fleksibilitas guru kepada siswa tentang kesulitan mata pelajaran siswa yang berbeda-beda. Kita sebagai guru memotivasi siswa agar bisa mengambil keputusan yang bertanggung jawab yaitu memotivasi mereka agar mau mengerjakan tugas yang dianggapnya susah dikerjakan,dengan melakukan pendekatan pribadi,membicarakan dari hati kehati apa kesulitan yang dihadapi tiap anak, kita menuntun,memotivasi dan menyemangati anak agar dapat mengambil keputusan untuk mengerjakan tugasnya.

 

4.      Penjelasan tentang tujuan:  Dengan pelaksanaan tekhnik tersebut diharapkan siswa dapat menaati aturan di kelasnya melalui kesepakatan kelas yang sudah dibuat dan siswa mampu membuat keputusan untuk tetap mengerjakan tugas belajar yang mereka anggap sulit.


=========== Terimakasih Semoga Bermanfaat ================

Kamis, 27 Oktober 2022

DEMEONSTRASI KONTEKSTUAL GAMBARAN GURU MASA DEPAN

 

Gambaran Guru Masa Depan 

Seorang Calon Guru Penggerak harus mampu menumbuhkan manusia yang kuat nilai kemanusiaanya, yang memegang teguh nilai-nilai kebajikan. dalam konteks yang beranekaragam, kita memerlukan pegangan yang mempersatukan. Nilai-nilai kebajikan yang sifatnya universal lah kemudian yang dapat dijadikan "landasan bersama" ( Common-ground), bagi beragam kepentingan, suku bangsa, ras, agama, dan antar golongan.

Iwan Syahril Dirjen GTK Kemendikbudristek, menyatakan dalam refleksinya atas Asas Konvergensi Ki Hadjar Dewantara: "Perubahan yang kita lakukan di pendidikan harus menuju pada suatu titik yang memanusiakan manusia dan memperkuat nilai kemanusiaan kita."

1. Menjadi guru pembelajar dalam peran sebagai leadership.

Menjadi role model untuk siswa maupun rekan kerja dalam peranannya sebagai informator, organisasi, motivator, pengarah atau director, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, evaluator dengan nilai-nilai kemandirian yang berpihak pada murid, sehingga mampu melakukan kolaborasi untuk berinovasi dalam menciptakan dunia pendidikan yang lebih baik dan berkualitas.

Menjalankan 4 fungsi seorang guru dengan peran sebagai leadership

  1. Merencanakan tujuan belajar
  2. Mengorganisir berbagai sumber belajar
  3. Memimpin proses pembelajaran
  4. Mengawasi proses pembelajaran

Menjadi Leadership dengan Nilai Semboyan Ki Hadjar Dewantara

  • Keteladanan = Menjadi role model untuk anak dalam menjadi sosok pemimpin masa depan dengan Profil Pelajar Pancasila
  • Mengarahkan = Menuntun anak untuk meraih kebahagiaan yang setinggi-tingginya sesuai dengan kodrat alam & zamannya.
  • Mendorong = Memberikan dukungan untuk anak dalam mewujudkan merdeka belajar yang sesungguhnya.

Nilai-nilai yang diharapkan :

  • Berpihak pada murid
  • Kolaboratif
  • Inovatif

2. Leadership sebagai Studen Agency

Melakukan pengawasan terhadap para pendidik dalam melakukan bimbingan pada peserta didik untuk mengasah kemampuan bertindak anak dalam menghadapi suatu kondisi dan situasi pembelajaran. Sehingga setiap siswa dapat memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing, dengan adanya kolaborasi dan kemandirian guru dengan siswa.

Nilai-nilai yang diharapkan dari peran Studen Agency adalah :

  • Berpihak pada murid
  • Kolaboratif
  • Reflektif
  • Inovatif
  • Kemandirian

3. Menjadi Coach Bagi Guru Lain

Menjadi coach bagi guru lain dalah seorang guru harus dapat menjadi pelatih atau pembimbing rekan guru dalam pengembangan karir ataupun kemampuan diri. melalui bimtek atau workshop digitalisasi disain pembelajaran. agar bisa menjadi lebih kreatif, inovatif, produktif dalam merancang suatu pembelajaran. Supaya nilai-nilai kemandirian mereka bisa tumbuh dan dapat berkolaborasi menghasilkan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran sehingga setiap pendidik memahami perannya mengarahkan kodrat alam anak sesuai dengan kodrat zamannya masing-masing.

Contaonya :
Menjadi Instruktur Pelatihan 

Diharapkan dengan adanya pelatihan dan bimbingan dari peran sorang supervisor, agar nilai-nilai kemandirian mereka bisa tumbuh dan dapat berkolaborasi menghasilkan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran sehingga setiap pendidik memahami perannya mengarahkan kodrat alam anak sesuai dengan kodrat zamannya masing-masing.
Jenis bimbingan dari supervisor adalah pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif.

Nilai yang diharapkan dari kegiatan ini adalah Kolaborasi, Inovasi dan Mandiri.

4. Kepala Sekolah Melakukan Kolaborasi

Melakukan kolaborasi dengan semua unsur guna membentuk manusia yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaan dan mampu menghargai kemanusiaan setiap orang. sehingga guru dan peserta didik dapat berlaku mandiri dan dewasa dalam menjalankan kehidupan di masyarakat.
Nilai-nilai yang diharapkan dari kegiatan ini adalah Berpihak pada murid, Kolaboratif, Mandiri, dan Inovatif dan Reflektif.
Sehingga memberikan kontribusi pada dunia pendidikan secara utuh dan menyeluruh.

Gambar Ilustrasi seorang guru penggerak.




=============== Semoga bermanfaat untuk guru masa depan =================

Rabu, 26 Oktober 2022

NILAI DAN PERAN CALON GURU PENGGERAK PADA KEGIATAN IMTAQ DI SEKOLAH

KI HADJAR DEWANTARA


Nilai & Peran Guru Penggerak

Pada Kegiatan Imtaq di Sekolah

Kekuatan Nilai & Peran CGP 

Peranan Guru diharapkan mampu memahami nilai-nilai dan peranan mereka sebagai pemimpin dan agen perubahan demi pencapaian Merdeka Belajar dan terwujudnya Profil Pelajar Pancasila. Terdapat lima nilai yang harus terpatri dalam jiwa seorang Guru Penggerak yaitu : Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif dan Berpihak Pada Murid.

Peran CGP Sebagai Pemimpin Pembelajar
Nilai yang diharapkan adalah : Mandiri, Kolaboratif, Berpihak pada murid.

Dimana seorang guru penggerak harus menjadi teladan atau role model untuk rekan guru ataupun siswa sehingga mampu membentuk kepemimpinan pada murid untuk teman sebayanya. agar nilai-nilai Kemandirian dan Kolaborasi dapat tercermin dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila.

Peran CGP Sebagai Studen Agency
Nilai yang diharapkan adalah : Kemandirian dan Kolaboratif.

Dimana seorang guru penggerak mampu meramu dan memahami pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik, agar peserta didik lebih kompeten, mandiri, berani dan determinasi untuk mencapai segala impian yang mereka kehendaki sesuai dengan Nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila.

Peran CGP Sebagai Coach Bagi Guru Lain
Nilai yang diharapkan adalah : Kolaboratif, Reflektif dan Berpihak pada murid.

Dimana seorang guru penggerak mampu menjadi coaching dalam memperlakukan murid sebagai mitra dalam menggali potensi dirinya masing-masing dengan memberikan dukungan, pengawasan, dan pembinaan bagi murid. untuk mendapatkan pengalaman belajar yang sealami mungkin dalam aktivitas pembelajaran imtaq.

Peran CGP Sebagai Kolaborator
Nilai yang diharapkan adalah : Kolabotaif dan Mandiri

Dimana seorang guru penggerak mampu melakukan suatu kolaborasi dengan segala unsur yang ada di lingkungan terkait, baik lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat sehingga dapat membangun karakter anak melalui kegiatan imtaq. untuk melakukan kolaborasi dalam sebuah inovasi yang sesuai dengan Nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila.

Kesimpulan

Setiap Nilai dan Peran yang dimiliki oleh seorang guru penggerak mampu memberikan sebuah imbas yang positif untuk diri dan orang lain terutama peserta didik sehingga terbentuknya karakter pendidikan Profil Pelajar Pancasila.

Nilai dan Peran dalam menyusun Langkah-langkah Kegiatan Imtaq

  1. Menyusun Jadwal = Peran : Berpihak pada murid dan Nilai yang diharapkan adalah Kolaboratif. Dalam kegiatan ini Seorang guru akan melakukanperan pemimpin pembelajar untuk melaksanakan kegiatan imtaq dengan nilai-nilai kemandirian dan berpihak pada murid.
  2. Menentukan Materi/Tema = Peran : Kolaborasi dan Nilai yang diharapkan adalah Kolaboratif dan Inovatif. Melakukan kolaborasi dengan siswa untuk menentukan materi atau tema imtaq yang akan dijalankan sehingga akan ada inovasi-inovasi baru dalam kegitan imtaq.
  3. Pelaksanaan = Peran : Coach bagi guru lain & siswa serta Nilai yang diharapkan adalah Kemandirian. Menjadi coach bagi guru dan siswa dengan nilai kemandirian dimilikinya.
  4. Refleksi = Peran : Studen Agency dan Nilai yang diharapkan adalah Reflektif. Mewujudkan kepemimpinan murid sehingga adanya nilai reflektif darin kegiatan imtaq yang dilakukan.

Peran dari Guru Penggerak adalah :

  1. Pemimpin Pembelajaran
  2. Studen Agency
  3. Coach Bagi Guru Lain
  4. Kolaborasi

Nilai dari Guru Penggerak adalah :

  1. Berpihak Pada Murid
  2. Mandiri 
  3. Reflektif
  4. Kolaboratif
  5. Inovatif
Dari Peran dan Nilai Guru Penggerak tersebut maka menghasilkan Peserta Didik dengan Profil Pancasila.






=========== Terimakasih Semoga Bermanfat ==============

Minggu, 25 September 2022

Modul 1.2.a.8 KONEKSI ANTAR MATERI ( REFLEKSI MODEL 4F )

 

REFLEKSI MODEL 4F.

  1. FACT ( PERISTIWA )
           Peristiwa penting yang saya alami ketika menjadi seorang calon guru pengerak merupakan pengalaman pertama yang saya dapat dalam pemahaman modul 1.1 dan 1.2 adalah sebuah peristiwa yang sangat berharga dalam hidup ini karena saya telah mendapatkan pemahaman Konsep Filosofis KHD yang sangat relevan diterapkan dalam pendidikan saat ini, antara lain :  
  • Dasar-Dasar Pendidikan KHD - Menuntun
            “Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak” (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraph 5)
  • Menuntun ( Among )


  • Kodrat Anak - Merdeka
Merdeka batin - Pendidikan 
Merdeka lahir – Pengajaran

Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai bagian dari persatuan (rakyat).
(KHD – Pendidikan dan Pengajaran Nasional, Desember 1928)
  •  Kodrat Anak - Bermain
Bermain adalah salah satu kodrat anak, Pikiran-Perasaan-Kemauan-Tenaga (Cipta-Rasa-Karsa/Karya-Pekerti) sudah ada pada diri anak, Permainan anak dapat menjadi bagian pembelajaran di sekolah.
  •  Berpusat pada murid.
“Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak.” (Ki Hajar Dewantara, 1922)”
Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapak karena hanya dua orang inilah yang dapat “berhamba pada sang anak” dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas (Karya Ki Hajar Dewantara, Pendidikan, halaman 382 – Buku Kuning)
  •   Nilai & Peran Guru Penggerak
Rokeach (dalam Abdul H., 2015), menyatakan bahwa nilai merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan tolok ukur pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat spesifik. Kehadiran nilai-nilai positif dalam diri seseorang akan membantu mereka mengambil posisi ketika berhadapan dengan situasi atau masalah, sebagai bahan evaluasi ketika membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesadaran penuh bersama lima keterampilan sosial-emosional (kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan relasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dan beretika) yang memungkinkan bertumbuhnya pola pikir dan nilai-nilai yang diharapkan menubuh pada Guru Penggerak akan dipelajari lebih dalam di paket modul berikutnya (Modul 2.2 . Gambar 10 di bawah ini berupaya mengilustrasikan kata-kata kunci yang terkait dengan nilai-nilai guru penggerak: (1) berpihak pada murid, (2) reflektif, (3) mandiri, (4) kolaboratif, serta (5) inovatif.

  •   Berpikir Cepat & Berpikir Lambat
Otak mempengaruhi bagaimana manusia tergerak melalui sebuah video pendek berjudul “Eskalator dan Kerja Otak”. Video ini berupaya menjelaskan bagaimana otak bekerja dalam dua sistem berpikir yang berbeda, yaitu berpikir cepat dan berpikir lambat melalui perumpamaan eskalator yang berjalan turun. Video ini juga membahas bagaimana otak “3-in-1 (Triune)” manusia bekerja.

Otak Reptil
Batang otak mengelola semua otomatisasi dan reflek di tubuh demi kelangsungan hidup kita, sehingga mampu mengkonservasi energi yang digunakan otak. Bagian otak ini mengotomatisasi kerja organ dalam tubuh, seperti: jantung, hati, paru-paru, dan lain-lain yang terkait dengan sistem pernapasan, metabolisme, reproduksi, hormon, suhu tubuh, bertahan hidup seperti: refleks untuk fight, flight, freeze (melawan, kabur, diam), melindungi dari bahaya. Bagian otak ini selalu menganggap semua adalah ancaman hingga terbukti aman. Bagian otak ini menyerupai otak Reptil.
Otak Mamalia
Sistem limbik (amigdala) yang menyerupai otak Mamalia ini, bertanggung jawab soal emosi. Bagian otak ini adalah pusat emosi (takut, sedih, marah, senang, jijik, terkejut, dan lain-lain), bertanggungjawab atas dinamika hormon dan sistem kekebalan tubuh. Letaknya begitu dalam di otak kita sehingga seringkali mampu mengambil alih kendali diri seseorang. Terlukanya perasaan jauh lebih sakit dan lama sembuhnya ketimbang luka fisik biasa. Otak Mamalia tersebut juga memiliki kecenderungan alamiah yang sama dengan Otak Reptil yaitu: sebanyak mungkin mengkonservasi energi melalui otomatisasi, auto pilot. Dalam gambar perumpamaan tangan di atas, jika ibu jari yang menggambarkan otak mamalia pengelola emosi dibiarkan mengambil kendali, dibiarkan lepas, dan keluar dari persembunyiannya di dalam 4 jemari yang lain, maka 4 jemari pun akan dipaksa membuka, keadaan ini menggambarkan keadaan otak luhur yang tidak dapat bekerja, tidak dapat aktif.
Otak Berpikir (Otak Luhur – Otak Primata)
Otak berpikir terdiri dari otak Primata (bagian gerak kompleks, rekayasa penggunaan alat) yang berada dalam satu kesatuan dengan otak manusia, otak luhur, atau neocortex. Otak ini mengelola kemampuan berpikir (logis, rasional, terstruktur), kemampuan berbahasa, perencanaan dan pemecahan masalah, berimajinasi (mengenai masa depan, visi). Otak ini memang bertugas untuk berpikir strategis, kreatif, metakognitif. Ini merupakan kekuatan, namun karena kerja itu semua memakan banyak sekali energi, maka hal ini pun sekaligus menjadi kelemahan.

2. FEELINGS ( PERASAAN )

  • Bingung mau berbuat apa? 
Saya bingung pada awal masuk sebagai calon guru penggerak ini karena saya belum mengerti apa harus saya perbuat untuk memulai mengisi LMS ini.
  • Optimis harus bisa
Sebagai moto hidup saya adalah "Orang lain bisa kenapa saya tidak" jadi saya optimis harus bisa menguasai pembelajaran pada modul ini agar saya dapat membawa perubahan bagi diri saya, sekolah, dan masyarakat lingkungan sekitar dan dimanapun saya berada harus menghasilkan perubahan bagi generasi penerus bangsa. 
  • Antusias ingin tahu
Semangat perjuangan 45 yang saya selalu niatkan untuk membawa perubahan dalam dunia pendidikan sekarang ini, demi masa depan bangsa dan negara.
  • Senang dan Bahagia
Saya selalu bersyukur, senang dan bahagia ketika saya mengikuti pendidikan guru penggerak angkatan - VI ( enam ) ini. jadi ilmu yang saya dapatkan mudah-mudahan menjadi bekal untuk menjadi penggerak untuk murid, rekan sejawat dan masyarakat maupun dalam organisasi pendidikan.


3. FINDING ( PEMBELAJARAN )

  • Harus kosentrasi penuh dalam mengikuti pendidikan guru penggerak ini.
  • Tetap tenang dan selalu bersabar.
  • Memiliki rencana untuk masa depan sekolah dan lingkungan sekitar agar menjadi yang terbaik dalam memimpin pembelajaran di sekolah.
  • Tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang negatif selalu berpikir positif.

4. FUTURE ( PENERAPAN )

saya selalu menerapakan apa yang saya dapat dalam pendidikan guru penggerak ini antara lain :

  • Berpihak pada murid
  • Mandiri
  • Inovatif
  • Berkolaborasi
  • Reflektif
Agar tercermin profil Pelajar Pancasila antara lain sebagai berikut :
1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) Mandiri; 3) Bergotong-royong; 4) Berkebinekaan global; 5) Bernalar kritis; 6) Kreatif.




============= Semoga bermanfaat bagi kita semua ===================

Selasa, 13 September 2022

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL FILOSOFIS PENDIDIKAN NASIONAL - KI HADJAR DEWANTARA

 


FILOSOFIS PENDIDIKAN NASIONAL KI HADJAR DEWANTARA

Tujuan Dasar Pendidikan adalah "menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat”(KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraph 4)

Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak” (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraph 5).


Trilogi/ semboyan pendidikan yang harus dipahami oleh seorang Pendidik yaitu :

  1. Ing Ngarso Sung Tulodho artinya seorang guru adalah pendidik yang harus memberi contoh atau menjadi panutan.
  2. Ing Madyo Mangun Karso artinya seorang guru adalah pendidik yang selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus-menerus membangun semangat dan ide-ide mereka untuk berkarya.
  3. Tut Wuri Handayani artinya seorang guru adalah pendidik yang terus-menerus menuntun, menopang dan menunjuk arah yang benar bagi hidup dan karya anak-anak didiknya.

Asas Trikon ( Ki Hadjar Dewantara ) untuk pengembangan pendidikan :

  1. Kontinuitas ( tidak melupakan akar budaya ) artinya pengembangan yang dilakukan harus berkesinambungan, dilakukan secara terus-menerus dengan perencanaan yang baik. Suatu kondisi yang baik tidak mungkin dapat dicapai dalam sekali waktu seperti sebuah sulap ( bin salab bin ) harus tahap demi tahap.
  2. Konvergensi ( Pendidikan harus memanusiakan manusia ) artinya pengembangan yang dilakukan dapat diambil dari berbagai sumber di luar, sehingga memunculkan tiga praktik dalam filosofis KHD yakni : a. Montisori ( olah panca indra ), b. Probel ( olah permainan ) dan c. Taman Siswa ( perpaduan antara olah panca indra dengan olah permainan sehingga ada rasa bahagia dalam permainan tersebut).
  3. Konsentris ( Pendidikan harus menghargai keberagaman dan memerdekakan murid ) artinya pengembangan pendidikan yang dilakukan harus tetap berdasarkan keperibadian kita sendiri, sesuai dengan karakter kebudayaannya sendiri, namun tetap semua itu ditempatkan secara konsentris dengan karakter budaya kita sebagai pusatnya.

Peran Pendidik diibaratkan seorang Petani atau tukang kebun yang tugasnya adalah merawat sesuai kebutuhan dari tanaman-tanamannya itu agar tumbuh dan berbuah dengan baik, tentu saja beda jenis tanaman beda perlakuanya. Artinya bahwa kita seorang pendidik harus bisa melayani segala bentuk  kebutuhan metode belajar siswa yang berbeda-beda (berorientasi pada anak). Kita harus bisa memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan ide, berfikir kreatif, mengembangkan bakat/minat siswa (merdeka belajar), tapi kebebasan itu bukan berarti kebebasan mutlak, perlu  tuntunan dan arahan dari guru supaya anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.

Tri Pusat Pendidikan yaitu dinyatakan dalam gambar dibawah ini :

Tantangan dunia pendidikan pada masa kini adalah :

  1. Kurangnya pemahaman mendalam bahwa penanaman nilai-nilai budi pekerti, pikiran dan perkembangan tubuh anak tidak bisa dipukul rata, apa lagi dengan kurikulum yang cenderung berubah-ubah dan kurang mantap dipersiapkan. Hal ini menyebabkan anak dipaksa / terpaksa belajar mengikuti kurikulum, tanpa ada kesadaran.
  2. Budaya instan dan kegilaan orang dalam melihat nilai. Orang ingin instan sehingga kebanyakan pendidikan hanya menekankan cara tercepat agar si anak dapat nilai yang baik yang dipandangnya penting untuk mencari pekerjaan. Orang menjadi tergila-gila terhadap nilai (akademis) dengan mengabaikan proses yang harus dilalui. Pendidikan menjadi sekadar agar anak ahli, sedangkan pendidikan untuk menjadi baik sangat minim.
  3. Kurangnya kesadaran bangsa Indonesia untuk menjadi Negara yang maju. Pendidikan Indonesia hanya terfokuskan pada materi/teori dalam pengajaran, padahal itu semua kurang diterapkan dalam praktik dan pengalaman.

Hampir semua orang Indonesia berpikir bahwa pendidikan dan pembelajaran adalah sama. Pendidikan dalam bahasa Latin adalah educare, yang berarti menggiring keluar, semacam usaha pemuliaan atau pembentukan manusia. Maka prosesnya adalah informal. Tidak ada pendidikan formal, karena tidak mungkin. Seluruh proses pemuliaan, ialah pembentukan moral manusia muda hanya mungkin lewat interaksi informal antara dia dan lingkungan hidup manusia muda. Jadi, kesimpulan yang paling mendasar ialah bahwa lembaga pertama dan utama pembentukan dan pendidikan adalah keluarga. Lih. J. Drost, Sj, 1999. Proses Pembelajaran Sebagai Proses Pendidikan, Grasindo, Jakarta, hal. 1-2.

Solusi pemikiran KHD sesuai dengan konteks kelas dan sekolah :

  1. Mengedepankan upaya pemanusiaan secara seutuhnya dalam seluruh praksis pendidikan. Artinya, aktivitas pendidikan dimaksudkan pertama-tama untuk mengembangkan kemanusiaan peserta didik secara utuh dan penuh. Dalam praksisnya potensi-potensi peserta didik dikembangkan secara terintegrasi (kognitif, afektif, psikomotor, konatif, sosial dan spiritual).
  2. Senantiasa meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan. Artinya, ketersediaan sarana (gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, komputer) dan prasarana (kursi, meja, papan tulis, alat-alat peraga) merupakan prasyarat dasar bagi pelaksanaan pendidikan yang memadai.
  3. Lembaga pendidikan bertanggungjawab dalam menyiapkan pelaku pendidikan (guru-guru) yang profesional dan memiliki integritas diri.
  4. Menghidupkan dan menerapkan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan itu pada dasarnya dimaksudkan untuk membebaskan lahiriah dan batiniah.
  5. Menjamin bahwa proses pendidikan tidak lagi dominasi kognitif, tapi membangun sinergi pengembangan potensi-potensi (kognitif, afektif, psikomotor, konatif, sosial, spiritual). Dengan demikian, out put pendidikan tidak hanya berakal, tetapi juga bermoral.
Penerapannya dengan pemikiran KHD sesuai kontek kelas dan sekolah :
  1. Meningkatkan kualitas diri dan memahami harapan dan keinginan anak didik.
  2. Yang harus dilakukan para pendidik dan lembaga pendidikan adalah tidak hanya mengasah kemampuan kognitif belaka, tapi juga membangun sinergi pengetahuan dengan potensipotensi anak didik. Maka hendaknya pendidik menyesuaikan atau membuat standard pendidikan yang lebih baik, pengajar dan metode yang lebih baik juga.
  3. Membuat suatu rancangan dasar pengajaran dengan basis dan semboyan Ki Hadjar Dewantara. Mencoba sistem pengajaran tersebut dan mengevaluasi hasilnya. Kalau perlu diadakan perbandingan antara sistem berbasis Ki Hadjar Dewantara dengan yang tidak berbasis Ki Hadjar Dewantara.
  4. Menerapkan pendidikan yang menekankan peran guru sebagai pendamping dengan cara memotivasi perkembangan dan bakat mereka (anak didik. red), membangun suasana kelas yang aktif sehingga anak-anak menjadi kreatif dan bebas mengemuka-kan pendapat serta terarah.



========== Sekian dan Terimakasih dan Semoga Bermanfat ============

FILE

JURNAL REFLEKSI LOKAKARYA 7 CGP A-6 KABUPATEN LOMBOK BARAT

  JURNAL REFLEKSI LOKAKARYA 7 CGP A-6 KABUPATEN LOMBOK BARAT By: I Made Yasa, S.Pd.SD Dari SDN 2 Pelangan Kec. Sekotong Kab Lombok Bar...

TERATAS