Pengikut

Selasa, 07 Maret 2023

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.2 PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

 


Jurnal Refleksi model 4F modul 2.2 (Pembelajaran Sosial dan Emosional)



Salam guru penggerak!

Tergerak,

Bergerak,

Menggerakkan.

Saya I Made Yasa,, S.Pd.SD. CGP Angkatan 6 dari SDN 2 Pelangan, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kali ini saya akan membuat jurnal refleksi dwi mingguan modul 2.2 tentang Kompetensi Sosial Emosional dengan model refleksi 4F (Fact, Feeling, Finding, Future) oleh Robert Greenaway

 

1. Peristiwa (Facts): peristiwa apa saja yang terjadi?

Pada pembelajaran modul 2.2 (pembelajaran sosial dan emosional) sama dengan modul-modul sebelumnya yaitu dengan alur MERDEKA yang dimulai dari mulai dari diri. Mulai dari alur pertama alur mulai dari diri menjawab beberapa pertanyaan di LMS sebagai refleksi individu selama menjadi seorang pendidik tentunya telah mdnapatkan banyak pengalaman yang mengarah pada pembelajaran sosial dan emosional. Selama menjadi pendidik, saya tentu pernah mengalami sebuah peristiwa yang dirasakan sebagai sebuah kesulitan, kekecewaaan, kemunduran, atau kemalangan, yang akhirnya membantu saya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Setelah itu memasuki alur kedua yaitu eksplorasi konsep, pada alur eksplorasi konsep calon guru penggerak belajar secara mandiri melalui materi-materi yang disajikan dalam forum LMS, calon guru penggerak juga diminta untuk menganalisis lima kasus yang disediakan dan saling menuliskan komentar pada forum diskusi daring. Memasuki alur ketiga yaitu ruang kolaborasi yang dibagi menjadi dua sesi, ruang kolaborasi ini dipandu oleh fasilitator Bapak H. Ratno, S.Pd.,M.Pd Ruang kolaborasi sesi pertama dimulai dengan refleksi materi pada eksplorasi konsep sejauh mana pemahaman calon guru penggrak pada materi tentang pembelajaran sosial dan emosional. Kemudian kesepakatan kelas dalam pembelajaran dan diskusi kelompok berdasarkan kelompok yang telah dibagi yaitu mendiskusikan bagaimana pengimplementasian pembelajaran sosial dan emosional di sekolah. Dilanjutkan dengan ruang kolaborasi sesi kedua yaitu kami calon guru penggerak melakukan presentasi hasil diskusi kelompok.

Alur yang keempat yaitu demontrasi kontekstual yaitu calon guru penggerak diminta untuk membuat rencana pelaksanaan pembelajaran sosial dan emosional, saya membuat RPP pembelajaran sosial dan emosional yang terintegrasi dalam kurikulum akademik hal ini karena tanpa disadari sebetulnya sebagai pendidik sudah menerapkan pembelajaran sosial dan emosional dalam pembelajaran hanya belum terarah dengan pembelajaran sosial dan emosional yang didapatkan dalam pendidikan guru penggerak ini diharapkan penerapan pembelajaran sosial dan emosional yang diberikan kepada murid lebih terarah lagi dan tepat sasaran agar keterampilan kompetensi sosial dan emosional murid dapat meningkat. Selanjutnya alur yang kelima adalah eloborasi pemahaman bersama instruktur yaitu Bapak Agus Sampurno, pada alur ini calon guru penggerak mendapat penguatan tentang materi pembelajaran sosial dan emosional. Selanjutnya alur yang keenam adalah koneksi antar materi mengaitkan materi pembelajaran sosial dan emosional dengan materi yang telah didapatkan pada modul sebelumnya. Alur terakhir dari alur merdeka adalah aksi nyata. Pada aksi nyata ini calon guru penggerak tidak diminta mengunggah tugas pada LMS akan tetapi menampilkannya kepada pengajar praktik pada pendampingan individu keempat.

2. Perasaan (Feelings): apa yang muncul saat proses pembelajaran

Bagi saya mengikuti pendidikan guru penggerak ini sangat beruntung dan bersyukur karena ilmu-ilmu baru yang saya dapatkan. Seperti pada modul 2.2 ini pembelajaran sosial dan emosional awalnya sebelum mempelajari modul ini saya berpikir bahwa pembelajaran sosial dan emosional ini akan tumbuh pada murid seiring dengan tingkat kedewasaan pada dirinya. Saya menerapkan pembelajaran sosial dan emosional ini sebelum mempelajari modul ini dengan memberikan motivasi kepada murid, mendengarkan dan memberikan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi, dan berempati kepada murid-murid saya. Ternyata hal-hal yang saya terapkan belum sepenuhnya tepat. Saya merasa masih banyak kekurangan pada diri saya dalam menerapkan pembelajaran sosial dan emosional ini. Untuk itu saya berharap saya dapat menerapkan pembelajaran sosial emosional ini baik secara eksplisit maupun secara terintegrasi dalam kurikulum sekolah. Hal yang saya tidak sadari juga sebetulnya ada juga yang sudah diterapkan dalam pembelajaran yang terintegrasi dalam kurikulum pembelajaran yaitu seperti keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dalam pembelajaran secara berkelompok.

Dengan mempelajari modul 2.2 ini pembelajaran sosial dan emosional saya semakin memahami bahwa keterampilan sosial dan emosional muridpun perlu dilatih agar mereka siap dalam kehidupan  ke depannya. Baik itu dalam kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran sosial dan emosional ini adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan murid, pendidik, dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosionalnya agar dapat memahami, menghayati, dan mengelola emosi (kesadaran diri), menetapkan dan mencapai tujuan positif  (pengelolaan diri), merasakan dan menunjukan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi), dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.

3. Pembelajaran (Findings): apa saja yang didapatkan

Pembelajaran yang didapatkan dalam modul ini banyak sekali diantaranya

  1. Pemahaman tentang pembelajaran sosial dan emosional yang penting untuk diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. Pembelajaran sosial dan emosional ini adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan murid, pendidik, dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosionalnya agar dapat memahami, menghayati, dan mengelola emosi (kesadaran diri), menetapkan dan mencapai tujuan positif  (pengelolaan diri), merasakan dan menunjukan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi), dan membuat keputusan yang bertanggung jawab hal ini berkaitan dengan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
  2. Lima kompetensi dalam pemebalajaran sosial dan emosional diantaranya kesadaran sosial yaitu kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri sendiri dalam berbgai situasi dan konteks kehidupan, manajemen diri yaitu kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi, kesadaran sosial yaitu kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, keterampilan berelasi yaitu membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan suportif, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab yaitu kemampuan mengambil pilihan-pilihan yang membangun berdasarkan kepedulian, dan perilaku untuk mencapai kesejahteraan psikologis atau well being.
  3. Lima kompetensi sosial dan emosional ini berhubungan erat dengan enam dimensi profil pelajar Pancasila, yang merupakan nilai kebajikan yang menjadi tujuan dari kurikulum Pendidikan.
  4. Lima kompetensi sosial dan emosional ini diharapkan dapat menghasilkan murid-murid yang berkarakter, disiplin, santun, jujur, peduli, responsive, proaktif, mendorong anak untuk memiliki rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan, sosial budaya, dan humaniora semuanya selaras dengan standar kompetensi lulusan dan standar isi dalanm satandar nasional Pendidikan.
  5. Dasar penguatan dari 5 KSE adalah mindfulness (kesadaran penuh), kesadaran penuh ini di mana kita mengarahkan sepenuhnya perhatian terhadap kegiatan yang dilakukan.
  6. Salah satu cara yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran penuh adalah Teknik STOP, yaitu berhenti sejenak, ambil nafas dalam, amati sensasi pada tubuh, perasaan, pikiran, dan lingkungan, dan selesai kemudian lanjutkan kembali aktivitas yang akan dilakukan.
  7. Kompetensi 5 KSE berdasarkan kesadaran penuh akan menciptakan kesejahteraan psikologis atau yang disebut dengan well-being.
  8. Implementasi pembelajaran sosial dan emosional dapat dilakukan dengan pembelajaran secara eksplisit dan terintegrasi dalam kurikulum akademik
  9. Pembelajaran sosial dan emosional dapat dilaksanakan dengan baik jika dilaksanakan secara kolaboratif yaitu di dalam kelas, sekolah, dan juga dalam keluarga serta komunitas.
  10. Pembelajaran sosial dan emosional pada pendidik dan tenaga kependidikan dapat diperkuat dengan menjadi teladan, belajar, dam berkolaborasi.

4. Perubahan (Future):

Setelah pembelajaran pada modul ini penerapan dan perubahan yang ingin saya lakukan adalah

  1. Menerapkan pembelajaran sosial dan emosional dalam pembelajaran baik secara eksplisit maupun terintegrasi dalam kurikulum akademik maupun iklim dan budaya sekolah.
  2. Menginformasikan kepada warga sekolah tentang pembelajaran sosial dan emosional serta berkolaborasi kepada orang tua agar pembelajaran sosial dan emosional ini dapat terlaksana dengan optimal.
  3. Dengan mempelajari modul ini dan melakukan penerapan pembelajaran sosial dan emosional saya berharap dapat melakukan perubahan positif pada manajemen diri saya yang masih kurang dan dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab yang terkadang saya masih sulit untuk mengambil keputusan dan mempertimbangkan segala resiko dari keputusan yang diambil.
  4. Dalam penguatan pembelajaran sosial dan emosional selaku pendidik saya berharap dapat menjadi teladan dan contoh baik bagi murid maupun bagi lingkungan.




Sabtu, 04 Maret 2023

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.1 PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

 


JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN

Modul 2.1Pembelajaran Berdiferensiasi

Oleh: I Made Yasa, S.Pd.SD

CGP Angkatan 6 Kabupaten Lombok Barat 


Pada awal modul 2 ini, saya merefleksikan hasil dari kegiatan yang saya ikuti di LMS ini dalam bentuk jurnal refleksi. Jurnal Refleksi Minggu ke-9 ini membahas materi pada Modul 2.1 mengenai Pembelajaran Berdiferensiasi. Jurnal refleksi ini saya tulis sebagai media untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya lakukan. Model refleksi yang saya pakai adalah Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future)

Di minggu ke-9 saya akan coba merefleksi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Di minggu ini ada beberapa aktivitas pembelajaran yaitu diawali dengan Test Awal Paket Modul 2,dilanjutkan aktivitas pembelajaran di LMS dimulai dengan 2.1.a .3.Mulai dari diri, 2.1.a.4.Eksplorasi konsep, 2.1.a.5.1. Ruang Kolaborasi 1, 2.1.a.5.2. Ruang Kolaborasi 2 Google Meet; 2.1.a.6. Refleksi Terbimbing - Modul 2.1; 2.1.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Modul 2.1).


1. Facts (Peristiwa)

Aktivitas pertama yaitu Test Awal Paket Modul 2, dilanjutkan aktivitas pembelajaran di LMS dimulai dengan 2.1.a.3.Mulai dari diri, 2.1.a.4.Eksplorasi konsep, 2.1.a.5.1. Ruang Kolaborasi 1, 2.1.a.5.2.mempresentasikan hasil kolaborasi pertemuan sebelumnya tentang membuat RPP berdiferensiasi. Pada kesempatan kali ini kelompok saya kebagian presentasi ke-1 .Anggota kelompok kami yang terdiri dua orang yaitu : Bapak Akhmad Supriadi, S.Pd dan saya sendiri I Made yasa, S.Pd.SD. Syukurlah kami semua bisa hadir tepat waktu. Kami mempresentasikan RPP berdiferensiasi untuk jenjang SD. Banyak manfaat yang kami peroleh dari sesi ini. Saya jadi mengetahui bagaimana mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi ke dalam sebuah RPP, sehingga dapat mengakomodir kebutuhan belajar peserta didik. Berikutnya, saya melakukan Refleksi terbimbing. Kami diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan pemantik yang makin memperkuat kami meningkatkan pemahaman terkait pembelajaran berdiferensiasi. Di aktivitas ini tidak ada hambatan yang dirasakan karena di sesi ini bagaimana CGP menggali lebih dalam konsep pembelajaran berdiferensiasi. Aktivitas berikutnya yaitu demonstrasi kontekstual. Di aktivitas ini kami diminta membuat Rencana pembelajaran berdiferensiasi dan mengevaluasi efektivitas RPP yang dibuat oleh sesama rekan CGP. Disini, saya membuat RPP berdiferensiasi dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik ditinjau dari Profil Belajarnya.

2. Feelings (Perasaan)

Saya bahagia, antusias dan semangat mengikuti aktivitas pembelajaran di LMS ini. Pada modul 2.1. ini, Saya belajar menyusun RPP berdiferensiasi, belajar menyusun langka-langkah pembelajaran yang menyelaraskan dengan karakteristik peserta didik. Ada gambaran tindak lanjut seperti apa yang dapat diambil oleh saya sebagai bentuk tindakan yang mempertimbangkan kebutuhan belajar peserta didik.

3. Findings (Pembelajaran)

Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru akan diterima oleh saya sebagai calon guru penggerak pemimpin pembelajaran. Salah satu aplikasi nyata bagaimana seorang guru harus menghamba pada anak adalah mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi terhadap pelaksanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Pembelajaran yang mengakomodir seluruh kebutuhan peserta didik dari minat, kesiapan belajar dan profil belajar peserta didik.

4. Future (Penerapan)

Disini saya belajar untuk lebih memperhatikan kemampuan siswa dalam memilih aktivitas belajar yang sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki akan membantu menghindarkan siswa dari pengalaman belajar yang kurang tepat, kurang menyenangkan dan kurang berpihak pada murid. Selain itu, Saya coba untuk sharing kepada rekan sejawat tentang pembelajaran berdiferensiasi dengan harapan kami semua menjadi lebih memperhatikan minat dan profil belajar peserta didik dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran.



Jumat, 03 Maret 2023

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

 


JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN Modul 1.4 Budaya Positif

Nah, kali ini saya akan menulis refleksi saya tentang kegiatan pelatihan yang telah kami lalui, khususnya pada modul 1.4 tentang Budaya Positif. Dalam penulisan jurnal refleksi ini, saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (1. Fakta; 2. Perasaan; 3. Temuan; dan 4. Masa Depan), yang digagas oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P (1. Peristiwa; 2. Perasaan; 3. Pembelajaran; dan 4. Penerapan)

1. Fakta (Peristiwa)

Setelah saya mempelajari modul 1.1 tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hadjar Dewantara, modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Motivator, dan modul 1.3 Visi Guru Motivator. Setelah itu saya dan CGP Angkatan 6 Kabupaten Lobok Barat mulai belajar modul 1.4 tentang Budaya Positif secara online menggunakan LMS Pendidikan Guru, kegiatan ini menggunakan alur yang disebut alur MERDEKA yaitu :

(1) Mulai dari diri sendiri

Saya mulai belajar modul 1.4. dengan membuka link mulai dari diri sendiri. Disini saya diberi tugas untuk menjawab empat pertanyaan yaitu 1) pentingnya menciptakan suasana positif di lingkungan; 2) bagaimana saya menciptakan suasana positif di lingkungan saya; 3) hubungan penciptaan suasana positif dengan proses pembelajaran yang berpihak pada siswa; 4) penerapan kedisiplinan di sekolah saya saat ini, apakah sudah dilaksanakan secara efektif, bila belum apa masih perlu diperbaiki dan dikembangkan.

Selain keempat pertanyaan tersebut, saya juga menjawab pertanyaan tentang refleksi diri, ekspektasi terhadap diri sendiri, ekspektasi terhadap siswa, dan ekspektasi.

(2) Eksplorasi konsep

Pada bagian eksplorasi konsep, saya belajar enam materi penting dalam modul 1.4. Budaya Positif. Keenam bahan tersebut adalah:

1) Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal;

Menerapkan disiplin merupakan tanggung jawab dalam proses mendidik siswa di sekolah. Pelaksanaannya tentu harus berkolaborasi dengan semua pihak: menanamkan keteladanan dan kesadaran bahwa kedisiplinan melatih kita untuk bertanggung jawab dan menghargai satu hal, salah satunya adalah waktu.

2) Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi;

bahwa sebagai guru kita harus mampu menempatkan diri dan waktu yang tepat dalam menerapkan motivasi termasuk pujian dan hukuman. Motivasi intrinsik menjadi fokus utama yang harus dikembangkan karena bersifat berkelanjutan.

3) Keyakinan Kelas;

Keyakinan kelas adalah suatu gagasan yang diyakini oleh kelas dengan penuh keyakinan yang berasal dari hati dan dengan sukarela atau dengan senang hati melaksanakan keyakinan yang dibuat.

4) Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas;

Ada lima kebutuhan dasar manusia, kesenangan, penguasaan, cinta dan penerimaan, kebebasan, dan kelangsungan hidup. Ukuran kebahagiaan seseorang adalah ketika kelima kebutuhan dasar telah terpenuhi dengan baik.

5) Restitusi - Lima Posisi Kontrol;

Posisi kontrol guru, terdapat lima posisi dalam kontrol budaya positif, yaitu posisi penghukum, pembuat kesalahan, teman, pemantau, manajer. Dari kelima posisi kontrol guru tersebut, posisi manajer adalah yang paling ideal, karena ketika guru berada pada posisi ini, dia dapat memposisikan dirinya sebagai teman dan pengawas untuk menciptakan identitas yang sukses.

6) Restitusi - Segitiga Restitusi;

Segitiga restitusi merupakan tahapan penyelesaian konflik atau masalah dalam penerapan budaya positif. Langkah-langkahnya: pemantapan identitas ( stability identity ), pengesahan perbuatan salah ( validation of unbehaviour ), dan pencarian keyakinan .

(3) Ruang kolaborasi

Ruang kolaborasi dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah diskusi dengan anggota kelompok, dan bagian kedua adalah presentasi hasil diskusi kelompok. Semua itu dilakukan melalui GMeet yang dipandu oleh fasilitator Ibu Yulia Verawati. Di ruang kolaborasi ini, kami dibagi menjadi 4 kelompok dan saya berada di kelompok 1 bersama Pak Muhammad Taufiq, Bu Sukmawati, dan Bu Wanti Muhibbah.

(4) Demonstrasi kontekstual

Pada bagian Demonstrasi kontekstual ini, saya mendapat tugas membuat dua skenario penerapan segitiga restitusi. Setelah skenario dibuat, saya membuat video penerapan segitiga restitusi bersama siswa.

(5) Elaborasi pemahaman

Pada bagian ini saya ditugaskan untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memperkuat pemahaman saya terhadap isi modul 1.4. Budaya Positif.

Pertanyaan yang akan memperkuat pemahaman saya terhadap materi konsep pada modul 1.4 adalah:

1. Bagaimana cara yang paling tepat untuk mengimplementasikan Budaya Positif dan Nilai Kebajikan yang harus ada di sisi siswa?

2. Apa yang harus kita lakukan jika kita menghadapi siswa yang bermasalah dengan segitiga restitusi, tetapi siswa tersebut tidak berubah sama sekali?

Saya pun menjabarkan pengertian dengan instruktur melalui Gmeet dan Instruktur yang memandu kegiatan elaborasi adalah Bapak Wisnu Suprihadi.

(6) Koneksi antar material

Bagian ini merupakan penghubung antara materi yang telah saya pelajari dari modul 1.1, 1.2, 1.3, dan 1.4. Tugas pada bagian ini adalah menjelaskan pemahaman saya tentang konsep-konsep inti yang telah saya pelajari dalam modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, kepercayaan kelas, dan segitiga restitusi. Saya juga diminta untuk menjelaskan hal-hal yang menarik dan tidak terduga. Saya juga membuat rencana aksi nyata sebagai persiapan pelaksanaan aksi nyata modul 1.4.

(7) Tindakan nyata

Tindakan nyata berisi pemahaman saya tentang modul 1.4. yang diterapkan secara nyata. Dalam aksi nyata ini saya akan melaksanakan Sosialisasi Penerapan Budaya Positif, Membudayakan Budaya Bersih dan Menciptakan Suasana Nyaman di Kelas.

Selain melakukan kegiatan sesuai alur MERDEKA, pada hari Selasa, 25 Oktober 2022 Pukul 3.31 PM saya mengerjakan post test modul 1.4.

2. Perasaan

Selama saya mempelajari Modul 1.4. Budaya Positif, Perasaan Campur aduk. Hal yang paling menarik dalam implementasi budaya positif sebelum mempelajari modul ini adalah meyakini bahwa reward merupakan salah satu hal yang dapat memicu motivasi. Namun ternyata apresiasi sama berharganya dengan hukuman.

Saat memberikan penghargaan kita seolah-olah telah menghukum orang tersebut. Dikatakan demikian karena dengan memberikan apresiasi sebenarnya kita sedang memotong dan mencekik kreativitas seseorang sehingga secara tidak langsung kita sedang mempelajari sifat ketergantungan pada “pemberian”.

Oleh karena itu, saya akan selalu berusaha memberikan layanan pendidikan dengan keteladanan dan dorongan positif kepada siswa yang dapat membangkitkan motivasi intrinsik siswa.

antusias karena di modul 1.4. Saya dapat materi tentang budaya positif yang mencerahkan saya tentang penerapan budaya positif di sekolah. Saya dapat lebih memahami nilai-nilai kebajikan, posisi kontrol guru, teori motivasi, kepercayaan kelas, segitiga ganti rugi, dll. Saya bangga karena berkesempatan mempelajari materi yang sangat tidak biasa dan sangat bermanfaat ini. Saya senang karena bisa berkolaborasi dengan teman-teman CGP lainnya untuk membuat presentasi tentang analisis kasus berdasarkan konsep budaya positif.

3. Temuan (Pembelajaran)

Saya akan terus belajar dan memberi contoh dalam proses menumbuhkan budaya positif di lingkungan sekolah. Terus tanamkan pemahaman pribadi bahwa budaya positif akan hadir ketika pikiran kita positif.

Perhatikan kata-kata dari Presiden David O. Mackay bahwa:

"Jika kita menabur pikiran maka kita akan menuai tindakan.

Jika kita menabur tindakan maka kita akan menuai kebiasaan.

Jika kita menabur kebiasaan maka kita akan menuai karakter.

Jika kita menabur karakter maka kita akan menuai dan menciptakan takdir kita."

Betapa hebatnya kekuatan sebuah pemikiran. Jadi berangkat dari teori, semoga saya pribadi bisa bersama seluruh elemen sekolah menciptakan karakter positif di lingkungan sekolah yang bisa membudayakan.

Dalam Modul 1.4. Saya mendapat materi tentang konsep budaya positif yaitu :

1) Disiplin Positif dan Nilai Kebajikan Universal

2) Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi

3) Keyakinan Kelas

4) Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia yang Berkualitas

5) Lima Posisi Kontrol

6) Segitiga Restitusi

Saya juga bisa membuat contoh penerapan segitiga restitusi dengan siswa yang bisa dijadikan contoh bagi guru lain yang belum tahu tentang segitiga restitusi untuk membangun budaya positif di sekolah.

4. Masa Depan (Implementasi)

Setelah mempelajari modul 1.4 tentang budaya positif, saya akan terus memperbaiki diri dan menjadi teladan bagi siswa agar budaya positif dapat tercapai dan terus dilaksanakan secara berkesinambungan dalam proses pembelajaran di sekolah.

Melakukan pendekatan dari hati ke hati dengan anak didik saya, berusaha membenamkan diri dalam dunia mereka agar lebih memahami kebutuhan yang mereka butuhkan dalam mencapai kemandirian belajar sampai tujuan akhir sehingga mereka dapat memaknai proses pendidikan ini dengan cara yang menyenangkan dan menyenangkan. menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi keselamatan dan kebahagiaan mereka kelak, dengan demikian akan terwujud siswa-siswi berprofil siswa pancasila.

Demikianlah refleksi dwi-mingguan modul 1.4. bahwa saya bisa menulis. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

================ Bergerak, Bergerak, Bergerak ==================

REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK

 



JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN Modul 1.3 Visi Guru Penggerak

Di sini saya akan menulis mengenai jurnal refleksi dwi mingguan modul 1.3.A. tentang Visi Guru Penggerak. Jurnal refleksi dwimingguan adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti sebuah kegiatan pelatihan (upgrading skill) yang ditulis secara rutin setiap dua mingguan sesuai dengan pengalaman saya dalam proses pendidikan guru penggerak Angkatan ke-6. Jurnal dwi mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh setiap calon guru penggerak. Dan ini sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh para CGP (Calon Guru Penggerak) untuk membuatnya. Jadi, kali ini saya akan menulis mengenai refleksi saya mengenai kegiatan-kegiatan pelatihan yang sudah kami lalui, khususnya pada modul 1.3 tentang Visi Guru Penggerak. Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (1. Fact; 2. Feeling; 3. Findings; dan 4. Future), yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P (1. Peristiwa; 2. Perasaan; 3. Pembelajaran; dan 4. Penerapan)

1. Facts (Peristiwa)

Setelah saya mempelajari modul 1.1 tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara, dan modul 1.2. tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak. Setelah iu, saya beserta CGP Angkatan 6 kabupaten Lombok Barat. Mulai mempelajari modul 1.3 tentang Visi Guru Penggerak, secara daring menggunakan LMS Pendidikan Guru Penggerak, kegiatan ini menggunakan alur yang disebut dengan alur MERDEKA yaitu:

(1) Mulai dari diri

Saya mulai mempelajari modul 1.3. dengan membuka tautan mulai dari diri. Di sini saya mendapat tugas untuk membuat gambaran imajiku tentang murid di masa depan. Jadi, saya harus membuat satu gambar mengenai murid yang saya dambakan 5-10 tahun mendatang. Saya juga menjelaskan situasi murid, peran guru, juga suasana sekolah sesuai dengan cita-cita saya. Pada tugas ini impian murid saya adalah murid yang unggul dan religius, yang tentunya juga gambaran dari profil Pelajar Pancasila. Mengimajinasikan sosok murid impian adalah hal yang selama ini tidak terpikirkan, saya baru baru tersadar bahwa seharusnya seorang guru memiliki impian indah tentang murid-muridnya di masa depan dan memotivasi diri untuk mewujudkannya.

(2) Eksplorasi konsep

Di bagian eksplorasi konsep, saya diberi pengantar tentang paradigma inkuiri apresiatif. Di bagian pengantar, saya juga diberi puisi pemantik yang berjudul “Aku Melihat Indonesia” karya Soekarno. Setelah itu, saya mempelajari materi tentang “Berpikir Strategis”, “Inkuiri Apresiatif sebagai Paradigma”, “Inkuiri Apresiatif sebagai Pendekatan Manajemen Perubahan (BAGJA)”, “Tahapan BAGJA”, “Proses Inkuiri dalam BAGJA”, dan “Amati - Tiru – Modifikasi”. Setelah itu, saya melakukan refleksi mandiri tentang pengalaman yang sudah dilakukan menggunakan kanvas BAGJA.

Setelah itu saya, melakukan diskusi asinkron. Ada dua topik dalam diskusi asinkron.

1. Berbagi Visi Murid Impian

2. Berbagi Tugas Kesimpulan tentang Inkuiri Apresiatif

(3) Ruang kolaborasi

Ruang kolaborasi dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah diskusi dengan anggota kelompok yang dipandu oleh fasilitator yaitu Bapak H. Ratno, S.Pd., M.Pd. dan yang kedua adalah bagian presentasi hasil diskusi kelompok. Semua itu dilakukan melalui GMeet. Pada ruang kolaborasi ini, kami dibagi menjadi 3 kelompok dan saya berada dikelompok A bersama Bapak Akhmad Supriadi, Bapak Norma Ikrama, Bapak I Made Yasa dan Ibu Nur Ahillah Di dalam kelompok ini, kami diminta membuat atau menyusun rencana BAGJA dari kalimat Prakarsa perubahan.

(4) Demonstrasi kontekstual

Di bagian Demontrasi kontekstual ini, saya mendapatkan tugas tentang penerapan inkuiri apresiatif dengan membuat Prakarsa perubahan dengan tahapan BAGJA.

(5) Elaborasi pemahaman

Di bagian ini, saya ditugaskan untuk memberikan pertanyaan yang dapat menguatkan pemahaman saya tentang isi modul 1.3.

Beberapa pertanyaan yang akan mengguatkan pemahaman saya akan materi konsep di modul 1.3 adalah:

1.   Apa yang harus dilakukan dalam membuat visi di lingkungan sekolah?

2.   Bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mensukses sebuah visi di sekolah?

3.   Bagaimana cara mengolaborasikan visi sekolah jika setiap guru memiliki visi yang berbeda-beda dan mereka kukuh dengan visinya masing-masing?

Saya juga melakukan elaborasi pemahaman dengan instruktur melalui Gmeet dan Instruktur yang memandu kegaiatan elaborasi adalah Bapak MELKIANUS DJU ROHI, S.Pd.

(6) Koneksi antar materi

Bagian ini adalah pengaitan antar materi yang sudah saya pelajari mulai dari modul 1.1, 1.2, dan 1.3. Tugas di bagian ini adalah menjawab kaitan peran pendidik dalam mewujudkan filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara, dan Profil pelajar Pancasila pada murid-murid dengan paradigma inkuiri apresiatif. Selain itu, saya juga harus membuat revisi dan merumuskan dengan penuh keyakinan visi yang telah dibuat berdasarkan jawaban pertanyaan di atas, ke dalam sebuah visi yang membuat saya bersemangat ketika membacanya, dan menggerakkan hati setiap orang yang membacanya.

(7) Aksi nyata

Aksi nyata berisi pemahaman saya tentang modul 1.3. yang diterapkan secara nyata. Di aksi nyata ini saya melakukan Prakarsa Perubahan dengan membuat kegiatan pembelajaran yang meningkatkan keaktifan siswa melalui media classpoint.

2. Feelings (Perasaan)

Selama saya mempelajari Modul 1.3., saya merasakan perasaan yang semangat, bangga, senang, dan tentunya tertantang. Saya semangat karena di modul 1.3. ini saya bisa mempelajari materi tentang visi guru penggerak yang cukup mencerahkan bagi saya dan tentunya menambah semangat saya sebagai guru. Saya bisa lebih paham tentang apa itu inkuiri apresiatif, Prakarsa perubahan, dan tahapan BAGJA. Saya bangga karena saya memiliki kesempatan untuk mempelajari materi yang sangat luar biasa dan sangat bermanfaat ini. Saya senang karena bisa berkolaborasi dengan teman CGP lain untuk membuat presentasi tentang pembuatan prakarsa perubahan dengan tahapan BAGJA. Saya juga sangat tertantang dengan tugas-tugas yang diberikan di sela kesibukan saya sebagai guru di sekolah.

3. Findings (Pembelajaran)

Di Modul 1.3. saya mendapatkan materi tentang paradigma inkuiri apresiatif (IA), yakni pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Pendekatan IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi. Saya juga mempelajari tahapan BAGJA sebagai salah satu kegiatan dalam manajemen perubahan. Adapun tahapan dalam BAGJA adalah

- Buat pertanyaan utama,

- Ambil pelajaran,

- Gali mimpu,

- Jabarkan rencana,

- Atur eksekusi.

4. Future (Penerapan)

Setelah mempelajari modul 1.3 tentang visi guru penggerak,

saya termotivasi untuk menjadi bagian dari perubahan dan mencoba mulai dari diri sendiri untuk melakukan hal terbaik dalam menentukan prakarsa perubahan guna mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid agar tujuan pendidikan dapat tercapai sejalan dengan pemikiran filosofis Ki Hajar Dewantara yaitu mewujudkan murid agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

saya akan menerapkan inkuiri apresiatif untuk melaksanakan manajemen perubahan di sekolah saya. Saya akan membuat prakarsa perubahan untuk mewujudkan kebiasaan-kebiasaan baru yang tentunya akan mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Ke depannya peningkatan kualitas pembelajaran itu akan lebih cepat dalam mewujudkan siswa dengan karakter profil pelajar Pancasila.

Sebelum itu, saya termotivasi untuk berkolaborasi dengan rekan sejawat dan berkonsultasi dengan kepala sekolah dalam rangka merumuskan Visi Sekolah yang berpihak pada murid. Selain itu, saya juga akan mensosialisasikan paradigma inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA untuk mempermudah pencapaian Visi Sekolah.

Demikian refleksi dwi mingguan modul 1.3. yang bisa saya tuliskan. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

=============== Tergerak, Bergerak, Menggerakkan =================


REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.2 NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

 


JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.2 NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

 

Pada kesempatan ini, Saya I Made Yasa, S.Pd.SD, Calon Guru Penggerak Angkatan 6 dari SDN 1 Pelangan, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam kesempatan ini saya akan menulis mengenai Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak. Jurnal ini dibuat untuk melakukan refleksi diri setelah mengikuti sebuah kegiatan pendidikan, Jurnal ini ditulis secara rutin setiap dua mingguan. Jurnal dwi mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh setiap calon guru penggerak.

Jadi, kali ini saya akan menulis mengenai refleksi saya mengenai kegiatan-kegiatan pendidikan Guru Penggerak yang sudah saya lalui, khususnya pada modul 1.2 tentang Nilai dan peran Guru Penggerak. Kegiatan Pembelajaran Modul 1.2 telah selesai saya ikuti, ada banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang saya peroleh selama kegiatan pendidikan. Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F yaitu : Fact (peristiwa), Feeling (perasaan), Findings (pembelajaran), Future (penerapan).

1. Fact (Peristiwa)

Setelah saya mempelajari modul 1.1 tentang Pendidikan menurut Ki Hajar dewantara, dilanjutkan ke modul 1.2 tentang nilai-nilai dan peran guru penggerak. Pada modul 1.2 dimulai dengan setiap CGP membuat trapesium usia. Dari trapesium usia yang sudah saya buat, saya banyak mendapatkan pembelajaran baru, yaitu bahwa kejadian negative atau positif meskipun sudah lama berlalu tetapi kejadian tersebut masih bisa saya ingat. Hal tersebut menjadi pembelajaran bahwa sebagai guru saya harus bisa menjadi momen positif untuk siswa-siswa saya dan mengusahakan jangan sampai ada momen atau kejadian negatif yang dirasakan oleh siswa saya. Selanjutnya saya mengidentifikasi nilai-nilai Guru Penggerak yang sudah ada pada diri saya. Kemudian bagaimana nilai-nilai guru penggerak tersebut bisa dilakukan dan dioptimalkan dalam pembelajaran maupun dalam kepemimpinan di sekolah tempat saya mengajar.Modul 1.2 yaitu tentang nilai dan peran guru penggerak yaitu dimulai dari merefleksikan pengalaman masa lalu, nilai-nilai diri serta peran guru yang dimiliki. Materi di dalam modul 1.2 ini terbagi atas 3 materi besar yaitu bagian A tentang konsep manusia tergerak, lalu bagian B tentang konsep manusia bergerak, dan bagian C tentang konsep menggerakkan manusia.

Setelah itu, saya dan teman-teman mengeksplor kegiatan di LMS yang dimulai dengan melakukan refleksi di alur Mulai dari diri, lalu mempelajari modul dan berdiskusi antar sesama Calon Guru Penggerak (CGP) secara tertulis di alur eksplorasi konsep. Ternyata materi di modul 1.2 ini lumayan banyak dan membutuhkan waktu lebih untuk mempelajarinya dan memahaminya.

Setelah mempelajari materi dan berdiskusi di alur eksplorasi konsep, saya dan teman-teman melanjutkan kegiatan diskusi di ruang kolaborasi modul 1.2, kami dibagi menjadi 3 kelompok dan saya berada dikelompok A bersama Bapak Akhmad Supriadi, Norma Ikrama,I Made Yasa dan Ibu Nur Ahillah. Di dalam kelompok ini, kami diminta membuat karya yang berisi gambaran singkat yang berbasis kekuatan nilai lalu merancang satu kegiatan yang sesuai dengan satu peran GP yang kelompok pilih.

Kegiatan di modul 1.2 ini diakhiri dengan kegiatan diskuai virtual diruang Elaborasi Pemahaman bersama instruktur, pemaparan materi yang disampaikan instruktur sangat jelas dan rinci sehingga saya pribadi semakin memahami tentang modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak serta mendapatkan banyak pencerahan dari pertemuan virtual ini karena dalam pertemuan ini juga ada diskusi antar sesama Calon Guru Penggerak dengan Instruktur.

2. Feelings( Perasaan )

Setelah mempelajari modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak ini, yang saya rasakan yaitu tumbuh kesadaran dari dalam diri dimana hati saya mulai tergerak dan merasa senang bersemangat untuk melakukan perubahan pada diri saya sendiri terlebih dahulu. Saya ingin memperbaiki hal-hal yang kurang baik selama ini, lalu berusaha menumbuhkan nilai dan peran yang mesti dimiliki oleh seorang guru penggerak. Setelah saya tergerak, selanjutnya saya ingin menggerakkan rekan sejawat di sekolah sehingga bisa bergerak bersama mewujudkan peserta didik yang berkarakter Profil Pelajar Pancasila untuk Indonesia yang lebih baik dan ikut berperan dalam perubahan pendidikan Sehingga menjadi Guru Penggerak di masa depan sesuai impian yang tertuang dalam Demonstrasi Kontekstual modul 1.2

3. Findings (Pembelajaran)

Banyak pengalaman dan ilmu yang saya peroleh selama dua minggu mempelajari modul 1.2, yaitu sebagai berikut :

Mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana cara kerja otak manusia, yaitu thinking fast dan thinking slow. Sebagai seorang pendidik, kita mesti membiasakan diri untuk thinking slow supaya kita tidak terburu-buru dalam menilai dan memutuskan sesuatu. Lalu saya belajar tentang 5 kebutuhan dasar manusia, yaitu kasih sayang dan rasa diterima, kekuasaan, kesenangan, kebebasan, dan bertahan hidup. Materi selanjutnya tentang tahap perkembangan manusia secara psikososial menurut erik erikson, diharapkan dengan kita tahu psikososial di setaip tahap perkembangan manusia, kita tahu apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan peserta didik di setiap tahapan perkembangannya. Mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana cara kerja otak manusia, yaitu thinking fast dan thinking slow. Sebagai seorang pendidik, kita mesti membiasakan diri untuk thinking slow supaya kita tidak terburu-buru dalam menilai dan memutuskan sesuatu. Lalu saya belajar tentang 5 kebutuhan dasar manusia, yaitu kasih sayang dan rasa diterima, kekuasaan, kesenangan, kebebasan, dan bertahan hidup. Materi selanjutnya tentang tahap perkembangan manusia secara psikososial menurut erik erikson, diharapkan dengan kita tahu psikososial di setaip tahap perkembangan manusia, kita tahu apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan peserta didik di setiap tahapan perkembangannya. Materi selanjutnya tentang tahap perkembangan manusia secara psikososial menurut erik erikson, diharapkan dengan kita tahu psikososial di setaip tahap perkembangan manusia, kita tahu apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan peserta didik di setiap tahapan perkembangannya. Materi berikutnya tentang nilai dan peran guru penggerak. Ada 5 nilai dan 5 peran yang mesti dimiliki oleh seorang guru penggerak.

4.  Future (Penerapan)

Setelah mempelajari modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak, saya akan berusaha menerapkannya dalam rangka mengembangkan diri, saya aktif dalam berbagai latihan, diklat, webinar baik dilakukan secara daring maupun luring sebagai wahana untuk mengupdate kompetensi saya. Menerapkan budi pekerti peserta didik dengan menerapkan budaya 5S yaitu senyum, sapa, salam, sopan dan santun, dan menjadi teladan yang baik bagi peserta didik Menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid dan menyenangkan, berpihak pada murid dan penuh dengan inovasi Menerapkan pembelajaran didalam dan luar ruangan yang penting murid nyaman. Berkolaborasi dengan teman sejawat dalam rangka merencanakan pembelajaran yang menyenangkan serta kegiatan sekolah lainnya. Berkolaborasi dengan waka kurikulum tentang tugas kurikulum terkait fungsi dan peran saya sebagai Ketua Kompetensi Keahlian demi kemajuan sekolah. Aktif dan terus berinovasi dalam membuat media pembelajaran yang inovatif seperti video pembelajaran dll.



========================= Semoga Bermanfaat ======================

FILE

JURNAL REFLEKSI LOKAKARYA 7 CGP A-6 KABUPATEN LOMBOK BARAT

  JURNAL REFLEKSI LOKAKARYA 7 CGP A-6 KABUPATEN LOMBOK BARAT By: I Made Yasa, S.Pd.SD Dari SDN 2 Pelangan Kec. Sekotong Kab Lombok Bar...

TERATAS