Pengikut

Kamis, 09 Februari 2023

AKSI NYATA MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK




 


Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik

Berdasarkan ICF (International Coaching Federation) ada 8 kompetensi inti namun untuk kebutuhan Pendidikan Guru Penggerak, kita mempelajari  3 kompetensi inti yang penting dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus menerus saat melakukan percakapan coaching kepada teman sejawat di sekolah.

Kompetensi inti coaching:

  1. Kehadiran Penuh/Presence
  2. Mendengarkan Aktif
  3. Mengajukan Pertanyaan Berbobot

Kehadiran Penuh/Presence

Kehadiran penuh/presence adalah kemampuan untuk bisa hadir utuh bagi coachee, atau di dalam coaching disebut sebagai coaching presence sehingga badan, pikiran, hati selaras saat sedang melakukan percakapan coaching.  Kehadiran penuh ini adalah bagian dari kesadaran diri yang akan membantu munculnya paradigma berpikir dan kompetensi lain saat kita melakukan percakapan coaching.

Menghadirkan diri sepenuhnya atau presence penting dilatih agar kita bisa selalu fokus untuk bersikap terbuka, sabar, ingin tahu lebih banyak tentang  coachee.  Kompetensi ini penting untuk dihadirkan sebelum dan selama percakapan coaching dilakukan
.
Contoh kegiatan untuk melatih menghadirkan presence yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan kegiatan STOP dan Mindful Listening yang telah kita pelajari pada modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional yang lalu.

Penting diingat tidak ada satu cara yang terbaik untuk semuanya karena setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk dapat menghadirkan presence.  Untuk itu temukan cara yang paling efektif untuk Bapak/Ibu agar bisa terus melatih diri dan menerapkannya sebelum dan selama melakukan percakapan coaching.

Mendengarkan Aktif

Salah satu keterampilan utama dalam coaching adalah keterampilan mendengarkan dengan aktif atau sering kita sebut dengan menyimak.  Seorang coach yang baik akan mendengarkan lebih banyak dan lebih sedikit berbicara.  Dalam percakapan coaching, fokus dan pusat komunikasi adalah pada diri coachee, yakni mitra bicara.  Dalam hal ini, seorang coach harus dapat mengesampingkan agenda pribadi atau apa yang ada di pikirannya termasuk penilaian terhadap coachee.

Kemampuan mendengarkan aktif atau menyimak perlu dilatih untuk fokus pada apa yang dikatakan oleh coachee dan memahami keseluruhan makna yang bahkan tidak terucapkan.

Pengantar

Salah satu keterampilan utama dalam coaching adalah keterampilan mendengarkan dengan aktif atau sering kita sebut dengan menyimak.  Seorang coach yang baik akan mendengarkan lebih banyak dan lebih sedikit berbicara.  Dalam percakapan coaching, fokus dan pusat komunikasi adalah pada diri coachee, yakni mitra bicara.  Dalam hal ini, seorang coach harus dapat mengesampingkan agenda pribadi atau apa yang ada di pikirannya termasuk penilaian terhadap coachee.

Kemampuan mendengarkan aktif atau menyimak perlu dilatih untuk fokus pada apa yang dikatakan oleh coachee dan memahami keseluruhan makna yang bahkan tidak terucapkan.

Asumsi

Asumsi, sudah mempunyai anggapan tertentu tentang suatu situasi yang belum tentu benar. Perhatikan contoh berikut ini:

ada saat coachee mengatakan bahwa dia sedang merasa “buntu”, kita memiliki gambaran tertentu tentang situasi “buntu” tersebut. Padahal gambaran “buntu” kita sangat mungkin berbeda dengan “buntu” yang dimaksud oleh coachee.

Pada saat asumsi muncul di kepala kita, yang perlu kita lakukan adalah menyadari bahwa pikiran itu ada, dan kemudian mengkonfirmasinya kepada coachee. Sebagai contoh:

“Barusan Ibu katakan kalau Ibu merasa buntu. Buntu yang seperti apa yang Ibu maksud? Bisa diceritakan?”

Melabel/Judgment

Melabel/Judgment, memberi label/penilaian pada seseorang dalam situasi tertentu. Memberi label/penilaian bisa terjadi sebelum dan pada saat coaching dilakukan.

Sebelum coaching

Pada saat kita akan melakukan coaching kepada rekan yang kita anggap “vokal”, “dominan”, “irit bicara”, “tertutup”, “bossy” dan lain sebagainya, itu semua adalah label yang kita berikan kepada dia. Walaupun rekan tersebut di banyak kesempatan menunjukkan perilaku yang membuat kita dan orang lain melabel dia seperti di atas, kita perlu menghilangkan atau setidaknya meminimalkan pikiran tersebut sebelum dan selama coaching.

Jika pelabelan ini masih tetap muncul pada saat coaching, yang bisa kita lakukan agar kita bisa bebas dari pelabelan tersebut adalah dengan cara kita memfokuskan pada apa yang coachee lakukan dan katakan pada saat coaching.

Pada saat coaching:

Pada saat coachee kita menceritakan sebuah kejadian yang dia alami, kemudian muncul pikiran yang bersifat melabel/menilai, seperti “dari ceritanya sepertinya dia orang yang tidak tangguh/antusias/rajin/dlsb”.

Jika penilaian seperti itu muncul, yang bisa kita lakukan adalah menyadarinya dan kemudian kembali fokus mendengarkan coachee kita. Karena penilaian kita terhadap kejadian itu tidak penting. Yang penting adalah bagaimana coachee menilai dirinya sendiri.

Jika kita merasa bahwa penilaian kita ini penting untuk disampaikan kepada coachee, maka kita perlu mengkonfirmasinya dengan sangat berhati-hati. Sebagai contoh:

“Dari apa yang barusan Bapak ceritakan dan juga cara Bapak menceritakannya, saya menangkap ada antusiasme/rasa putus asa/dan lain sebagainya di sana. Apakah betul seperti itu Pak?”

Asosiasi

Asosiasi: mengaitkan dengan pengalaman pribadi.

Pada saat coachee menceritakan sebuah kejadian yang dia alami, kemudian kita teringat dengan kejadian yang kita alami, pada saat itu potensi asosiasi muncul. Potensi tersebut dapat menjadi asosiasi pada saat kita mulai mengaitkannya dengan pengalaman pribadi kita. Pada saat kita terbawa pada asosiasi kita, percakapan kita dengan coachee akan berpotensi mengacu kepada pengalaman kita. Perilaku yang muncul pada kita bisa jadi dalam bentuk pertanyaan yang mengarahkan atau kecenderungan untuk menasehati.

Pada saat asosiasi muncul, yang perlu kita lakukan adalah menyadarinya dan kemudian kembali fokus kepada coachee dengan cara mengingatkan diri kita bahwa percakapan ini adalah tentang coachee, kejadian yang pernah kita alami, tidak penting/relevan dalam percakapan ini.

Selain itu, yang perlu kita sadari juga adalah asosiasi ini bisa membuat kita menjadi terbawa emosi yang sedang dirasakan oleh coachee. Pada saat ini terjadi, maka kita perlu “melepaskan” diri dari emosi tersebut dan berusaha mengembalikan emosi kita ke posisi netral, agar kita tetap bisa menjadi rekan berpikir coachee kita.

Mengajukan Pertanyaan Berbobot

Dalam melakukan percakapan coaching ketrampilan kunci lainnya adalah mengajukan pertanyaan dengan tujuan tertentu atau pertanyaan berbobot.  Pertanyaan yang diajukan seorang coach diharapkan menggugah orang untuk berpikir dan dapat menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensi.

Pertanyaan berbobot memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Hasil mendengarkan aktif: Menggunakan kata kunci yang didapat dari mendengarkan
  2. Membantu coachee: Membuat coachee mengingat, merenung, dan merangkai fakta sehingga dapat memahami apa yang terjadi pada dirinya
  3. Bersifat terbuka dan eksploratif: Struktur kalimat terbuka, membuat coachee harus menjawab sambal berpikir
  4. Diajukan di momen yang tepat:  Tidak terburu-buru dalam mengajukan pertanyaan dan ditanyakan di waktu yang coachee sudah siap memprosesnya

Setelah kita mengetahui ciri-ciri pertanyaan berbobot, tentunya kita perlu mengetahui bagaimana kiat-kiat untuk mengajukan pertanyaan berbobot. Kiat-kiat yang dapat kita coba adalah sebagai berikut:

  1. Merangkum pernyataan-pernyataan coachee dari hasil mendengarkan aktif.
  2. Menggunakan kata: Apa, Bagaimana, Seberapa, Kapan dan Dimana, dalam bentuk pertanyaan terbuka
  3. Menghindari penggunaan kata tanya “mengapa” - karena bisa terasa ada “judgement”.  Ganti kata “mengapa” dengan “apa sebabnya” atau “apa yang membuat”
  4. Mengajukan satu pertanyaan pada satu waktu, jangan memberondong
  5. Mengizinkan ada “jeda” atau “keheningan” setelah coachee selesai bicara, tidak buru-buru bertanya.  Juga izinkan ada keheningan saat coachee memproses pertanyaan
  6. Menggunakan nada suara yang positif dan memberdayakan

Alur TIRTA

Sebelum membahas dan memberikan contoh alur yang spesifik dari setiap percakapan coaching di atas, kami perkenalkan acuan umum sebuah alur percakapan coaching yang akan membantu peran coach dalam membuat percakapan coaching menjadi efektif dan bermakna yaitu alur TIRTA.

TIRTA dikembangkan dari satu model umum coaching yang dikenal sangat luas dan telah banyak diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari GoalRealityOptions dan Will.

o    Pada tahapan 1) Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,

o    2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,

o    3) Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

o    4) Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.

  • Alur TIRTA
  • Alur percakapan coaching TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang membuat kita memiliki paradigma berpikir, prinsip dan keterampilan coaching untuk memfasilitasi rekan sejawat agar dapat belajar dari situasi yang dihadapi dan membuat keputusan-keputusan bijaksana secara mandiri.   Hal ini penting mengingat tujuan coaching yaitu untuk pengembangan diri dan membangun kemandirian. Melalui alur percakapan coaching TIRTA, kita diharapkan dapat melakukan pendampingan baik kepada rekan sejawat maupun muridnya. 
  •  
  • Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya.
  • Sebagai seorang coach salah satu peran terpentingnya adalah membantu coachee menyadari potensi yang dimiliki untuk mengembangkan kompetensi dirinya, dan menjadi mandiri melalui pendampingan yang mengedepankan semangat memberdayakan

TIRTA (Tujuan)

Tujuan Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee)

Dalam tujuan umum, beberapa hal yang dapat coach rancang (dalam pikiran coach) dan yang dapat ditanyakan kepada coachee diantaranya:

1.     Apa rencana pertemuan ini?

2.     Apa tujuannya?

3.     Apa tujuan dari pertemuan ini?

4.     Apa definisi tujuan akhir yang diketahui?

5.     Apakah ukuran keberhasilan pertemuan ini?

Seorang coach menanyakan kepada coachee tentang sebenarnya tujuan yang ingin diraih

TIRTA (Identifikasi)

Identifikasi (Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi)

Beberapa hal yang dapat ditanyakan dalam tahap identifikasi ini diantaranya adalah:

1.     Kesempatan apa yang Bapak/Ibu miliki sekarang?

2.     Dari skala 1 hingga 10, dimana posisi Bapak/Ibu sekarang dalam pencapaian tujuan Anda?

3.     Apa kekuatan Bapak/Ibu dalam mencapai tujuan tersebut?

4.     Peluang/kemungkinan apa yang bisa Bapak/Ibu ambil?

5.     Apa hambatan atau gangguan yang dapat menghalangi Bapak/Ibu dalam meraih tujuan?

6.     Apa solusinya?

TIRTA (Rencana Aksi)

Rencana Aksi (Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat)

1.     Apa rencana Ibu/bapak dalam mencapai tujuan?

2.     Adakah prioritas?

3.     Apa strategi untuk itu?

4.     Bagaimana jangka waktunya?

5.     Apa ukuran keberhasilan rencana aksi Bapak/Ibu?

6.     Bagaimana cara Bapak/Ibu mengantisipasi gangguan?

TIRTA (Tanggung Jawab)

Tanggungjawab (Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya)

1.     Apa komitmen Bapak/Ibu terhadap rencana aksi?

2.     Siapa dan apa yang dapat membantu Bapak/Ibu dalam menjaga komitmen?

3.     Bagaimana dengan tindak lanjut dari sesi coaching ini?

 

 

Dengan menjalankan alur TIRTA ini, harapannya seorang kepala sekolah dapat dapat menjalankan percakapan berbasis coaching dengan lebih efektif dan bermakna.

Percakapan untuk Perencanaan

Di tahap ini, tidak perlu menggali secara detail.  Dapatkan informasi yang cukup spesifik tapi tidak terlalu detail karena akan lebih digali saat berefleksi atau kalibrasi.  Saat melakukan percakapan perencanan jangan minta coachee mengisi form tapi dapatkan jawaban melalui percakapan.

T (Tujuan):

Tanyakan tujuan perencanaan: apa yang ingin dicapai dengan program pengembangan/kegiatan

 I (Identifikasi) & R (Rencana):

1.    Tentukan ukuran keberhasilan program pengembangan/kegiatan

2.    Identifikasi hal-hal yang harus disiapkan/dikembangkan

3.    Identifikasi hal-hal yang sudah ada yang bisa membantu keberhasilan

4.    Identifikasi dukungan yang diperlukan

TA (Tanggung Jawab):

Sepakati kapan akan melakukan sesi untuk refleksi/kalibrasi

Percakapan untuk Refleksi

Percakapan ini dilakukan setelah coachee selesai beraktivitas, menyelesaikan tantangan, atau menyelesaikan suatu tugas.  Tujuan percakapan membantu coachee merefleksikan pengalamannya dan mengambil makna serta pembelajaran untuk menjadi lebih baik di kesempatan lain.  Saat melakukan percakapan untuk refleksi upayakan untuk memberi banyak ruang hening untuk coachee.  Izinkan coachee mengungkapkan refleksinya dengan bebas.  Jaga presence untuk membantu menjaga “ruang” percakapan yang aman dan nyaman bagi coachee.

T (Tujuan)

1.    Bangun suasana tenang saat melakukan refleksi

2.    Menyepakati tujuan refleksi dari kegiatan yang dialami coachee

3.    Menyepakati hasil percakapan

I & R (Identifikasi & Rencana Aksi)

1.    Mulai dengan menanyakan apa yang didapat/dirasakan dari event/kegiatan/situasi yang direfleksikan

2.    Tanyakan inspirasi apa yang timbul dari pengalaman/perasaan tersebut

3.    Tanyakan apa yang sekarang jadi diketahui/dipahami/disadari oleh coachee

4.    Tanyakan dari kesadaran itu apa yang akan dilakukan kedepannya

TA (Tanggung Jawab)

Tanyakan apa yang didapatkan dari percakapan?

Percakapan untuk pemecahan masalah

Percakapan ini dapat terjadi saat coachee menghubungi kita karena menghadapi masalah, merasa buntu, merasa tidak jelas, merasa tidak berdaya, merasa tidak mampu, atau saat coachee mengalami krisis dan membutuhkan bantuan dari luar.  Saat melakukan percakapan untuk pemecahan masalah coach perlu menjaga sikap terbuka, netral, dan ingin tahu.  Jangan terbawa dalam “masalah coachee”.  Sering-sering mengajak coachee melihat dari area yang netral.  Apabila perlu gunakan gambar/mindmap untuk membantu coachee bisa melihat dengan lebih jelas kondisi yang sedang dihadapi.

T (Tujuan)

Menyepakati tujuan percakapan dan hasil percakapan

I (Identifikasi)

1.    Ajak coachee menggambarkan/menjelaskan/mengungkapkan masalahnya

2.    Lalu ajak coachee melihat apa yang ingin dicapainya jika masalah hilang

3.    Ajak coachee melihat faktor-faktor yang menyebabkan itu terjadi dan faktor-faktor yang bisa membuat hal itu hilang

R (Rencana Aksi)

1.    Ajak coachee memikirkan apakah memiliki gagasan untuk mengatasinya

2.    Coach dan coachee bisa menggunakan sesi brainstorming

TA (Tanggung Jawab)

Sebelum percakapan berakhir, coachee menyimpulkan apa yang didapat dari percakapan

Percakapan untuk kalibrasi

Kalibrasi artinya adalah mengukur dan menyesuaikan kinerja diri dengan standar yang ditentukan.  Percakapan kalibrasi dibangun untuk membimbing coachee melakukan kalibrasi terhadap standar yang berlaku dengan menyesuaikan tingkat keterampilan coachee dari standar tersebut.  Percakapan ini dilakukan saat membicarakan kemajuan perkembangan diri coachee, saat coachee melakukan swanilai kinerja atau perkembangannya, atau saat perlu melakukan penyesuaian ulang atas rencana terhadap standar/kriteria tersebut.  Percakapan dimulai dengan membahas hal-hal yang sudah baik.  Lalu gunakan hal yang sudah baik untuk meningkatkan atau mengebangkan hal-hal yang belum sesuai target atau keinginan coachee.  Berikan umpan balik sesuai data dan positif.

T (Tujuan)

1.    Pastikan coach dan coachee dalam keadaan mental positif, siap untuk berpikir bersama, mampir hadir sepenuhnya

2.    Pastikan memiliki intensi yang tepat yaitu ingin terkoneksi bukan mengoreksi dan ingin memahami bukan memberi tahu

I & R (Identifikasi dan Rencana Aksi)

1.    Mulai dengan mengajak coachee menilai apa hal-hal yang sudah baik

2.    Lanjutkan dengan swa-nilai area yang menurut coachee dapat dikembangkan lagi

3.    Sampaikan sudut pandang coach sebagai pengamat

TA (Tanggung Jawab)

Tanyakan kesimpulan dan apa yang akan dilakukan berbeda di kemudian hari

coaching di pembelajaran selanjutnya.  Saat ini kita akan membahas salah satu proses penting yang dilakukan saat supervisi akademik yaitu pemberian umpan balik.  Apa yang perlu diperhatikan untuk membuat pemberian umpan balik yang efektif dan memberdayakan sesuai prinsip dan paradigma berpikir coaching?

Umpan balik yang efektif haruslah bersifat netral sehingga tidak subjektif dan tanpa dasar (Costa dan Garmston, 2016).  Umpan balik akan memiliki lebih besar kesempatan untuk diterima apabila berbasis data kuantitatif dari indikator pencapaian yang sebelumnya sudah disepakati.   Perlu disadari bahwa setiap orang membutuhkan umpan balik sehingga apabila umpan balik tidak diberikan dengan efektif maka kecenderungannya orang akan berasumsi terhadap hasil capaian sendiri tanpa data yang valid.  Pembelajaran dapat terjadi di saat kita memiliki kesempatan untuk bisa mengolah data yang di dapat dari internal maupun eksternal.  Data eksternal termasuk umpan balik dari rekan sejawat, guru, pendamping, pengalaman pribadi sementara data internal yang didapat dari umpan balik dan refleksi diri.  Tidak satupun data yang didapat dari internal maupun eksternal akan bermanfaat untuk pengembangan diri kecuali adanya umpan balik konstruktif yang diberikan secara rutin dan berkesinambungan. Umpan balik akan efektif apabila berbasis data dan disampaikan secara langsung tidak lama setelah kejadian/pembelajaran/situasi terjadi.

Kesempatan dan kemampuan untuk melakukan evaluasi diri dan mengolah data penting untuk memberdayakan dan memandirikan guru/rekan sejawat/coachee sehingga penting bagi coachee untuk memahami bagaimana bisa mengukur kemampuan dan performa saat ini dari performa yang terdahulu.  Selain itu perlu kemampuan untuk bisa menganalisis kemampuan dan performa diri dengan standar yang berlaku.  Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan saat memberikan umpan balik dengan prinsip coaching:

1.    Tujuan pemberian umpan balik adalah untuk membantu pengembangan diri coachee

2.    Tanpa umpan balik, orang tidak akan mudah untuk berubah

3.    Sesuai prinsip coaching, pemberian umpan balik tetap menjaga prinsip kemitraan

4.    Selalu mulai dengan memahami pandangan/pendapat coachee

Menurut Costa dan Garmston (2016) dalam Cognitive Coaching: Developing Self-directed Leaders and Learners, ada beberapa jenis umpan balik balik yang mendukung kemandirian untuk penerima umpan balik.

Umpan Balik dengan Pertanyaan Reflektif

Pertanyaan reflektif akan membuat coachee menggunakan data sendiri hasil dari observasi internal dan eksternal.  Menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif akan mendorong coachee untuk mengembangkan kemandirian karena membangun kesadaran coachee untuk menggunakan data yang akan memvalidasi evaluasi dirinya, untuk memproses umpan balik, untuk mendapatkan pembelajaran dari umpan balik, dan menentukan capaian yang perlu diselaraskan di kemudian hari.  Contoh pertanyaan reflektif yang bisa diajukan saat memberikan umpan balik:

1.    Apa indikator yang menunjukkan bahwa murid-murid di kelas mendapatkan pemahaman dari pembelajaran yang diberikan?

2.    Apa yang melandasi keputusan Anda saat mengubah metode penyampaian materi di kelas tadi?

3.    Apa yang Anda gunakan sebagai data umpan balik dari murid-murid di kelas untuk menentukan kesiapan mereka melanjutkan pembelajaran ke tingkatan yang lebih kompleks?

4.    Apa yang Anda rasakan saat murid-murid di kelas menyatakan kepuasannya dari topik yang tadi Anda berikan?

5.    Saat Anda merefleksikan capaian pembelajaran hari ini, apa indikator yang menunjukkan ketercapaian pembelajaran yang diharapkan?

Pada saat coaching:

Pada saat coachee kita menceritakan sebuah kejadian yang dia alami, kemudian muncul pikiran yang bersifat melabel/menilai, seperti “dari ceritanya sepertinya dia orang yang tidak tangguh/antusias/rajin/dlsb”.

Jika penilaian seperti itu muncul, yang bisa kita lakukan adalah menyadarinya dan kemudian kembali fokus mendengarkan coachee kita. Karena penilaian kita terhadap kejadian itu tidak penting. Yang penting adalah bagaimana coachee menilai dirinya sendiri.

Jika kita merasa bahwa penilaian kita ini penting untuk disampaikan kepada coachee, maka kita perlu mengkonfirmasinya dengan sangat berhati-hati. Sebagai contoh:

“Dari apa yang barusan Bapak ceritakan dan juga cara Bapak menceritakannya, saya menangkap ada antusiasme/rasa putus asa/dan lain sebagainya di sana. Apakah betul seperti itu Pak?”

Umpan Balik menggunakan data yang valid

Tujuan umpan balik dengan prinsip dan paradigma berpikir coaching yang artinya bebas dari penilaian akan mendorong coachee untuk melakukan identifikasi, observasi dan mengumpulkan dari datanya sendiri.  Peran coach bisa membantu coachee untuk memberikan umpan balik berdasarkan data sesuai yang dibutuhkan coachee untuk pengembangan dirinya.  Percakapan untuk mendapatkan data yang perlu diobservasi dilakukan saat melakukan perencanaan observasi.  Saat memberikan umpan balik, coachee menggunakan data sesuai kebutuhan coachee untuk mengajak coachee mendapatkan pembelajaran dari melakukan pengukuran, menganalisis, menarik kesimpulan secara mandiri untuk dijadikan landasan perbaikan dan melakukan modifikasi yang dibutuhkan untuk performa yang lebih baik.   Contoh data hasil observasi:

1.    Anda mengajukan pertanyaan sebanyak 3 x di 10 menit pertama kelas dimulai

2.    Berikut ini adalah 5 nama murid yang Anda ingin saya observasi, Warih menjawab 2 kali pertanyaan, Ayu menjawab 1 kali pertanyaan, sementara Simon, Shirley, dan Irra tidak menjawab

Agar proses umpan balik bisa dilakukan dengan efektif dan bermakna berikut ini tips pemberian umpan balik yang dapat diingat:

1.    Pastikan coach dalam suasana hati positif apabila sedang marah/jengkel jangan memberi umpan balik

2.    Dapatkan dulu pandangan coachee tentang situasi yang akan diberi umpan balik

3.    Dengarkan, dapatkan kata kunci, perdalam dari situ

4.    Jangan lupa memberikan umpan balik apresiatif, jika ada hal-hal baik yang ditunjukkan coachee

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILE

JURNAL REFLEKSI LOKAKARYA 7 CGP A-6 KABUPATEN LOMBOK BARAT

  JURNAL REFLEKSI LOKAKARYA 7 CGP A-6 KABUPATEN LOMBOK BARAT By: I Made Yasa, S.Pd.SD Dari SDN 2 Pelangan Kec. Sekotong Kab Lombok Bar...

TERATAS